June 15, 2015 jejakkakirani 0Comment

Imigrasi Malaysia di suatu hari. Antrian tidak begitu panjang. Dan giliran saya tinggal beberapa saat lagi. Saat-saat yang mendebarkan. Entahlah! Dari sekian banyak rentetan yang harus dilalui kala traveling, berada di depan meja imigrasi untuk mendapatkan stempel di paspor rasanya luar biasa.

Saya segera mengulungkan paspor ke petugas ketika giliran saya tiba. Petugas itu membuka-buka paspor, mencocokkan foto di paspor dengan wajah saya, memeriksa entah apa lagi, dan kemudian berkata dengan bahasa Melayu,”Punya tiket pulang?”

Alih-alih menjawab dengan bahasa Indonesia, saya menjawab dengan bahasa Inggris sesempurna mungkin sambil mengulungkan tiket pulang,”This is my ticket, Madam! I will be back to Indonesia next Friday.” Saya memang sudah menyiapkan tiket pulang di tangan. Sudah bukan rahasia lagi jika petugas Imigrasi di bandara atau di perbatasan pasti menanyakan mengenai tiket pulang kepada orang Indonesia yang datang ke Malaysia.Hal ini konon dikarenakan banyak TKI ilegal yang masuk ke Malaysia, berkedok sebagai turis terus akhirnya menjadi tenaga kerja di sana. Setelah memeriksa tiket sejenak, kemudian petugas itu membubuhkan cap di halaman paspor  sekaligus menyuruh saya untuk melakukan biometric test.

Beberapa menit kemudian secara resmi saya sudah berada di Malaysia.

Beberapa kejadian terkait dengan imigrasi Malaysia dan tiket pulang telah menjadi kisah klasik yang terkadang menjengkelkan. Pernah ada kejadian dan kebetulan seorang teman  melihat dengan mata kepala sendiri. Seorang ibu-ibu asal Indonesia yang hanya mempunyai tiket berangkat, benar-benar ditolak masuk ke Malaysia hanya karena beliau tidak bisa menunjukkan tiket pulang. Lantas, ibu tersebut  harus menelpon kerabatnya yang tinggal di Malaysia, meminta tolong agar dibelikent tiket pulang ke Indonesia terlebih dahulu. Setelah tiket didapatkan, baru akhirnya Ibu tersebut bisa mendapatkan stempel ‘selamat datang’ dari imigrasi Malaysia.

Nah, jadi memang sebaiknya sebelum masuk ke Malaysia sebaiknya tiket pulang ke Indonesia sudah ada di tangan. Biar lebih mudah mendapatkan stempel dari imigrasi Malaysia. Tetapi, tetap saja miris rasanya diperlakukan sedemikian rupa hanya karena cap ‘negara pengekspor TKI (ilegal) yang cukup besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *