June 26, 2015 jejakkakirani 0Comment
393424_3125069684822_1207039768_3390491_248247522_n
Selamat datang di Laweyang

Tertarik dengan rumah-rumah kuno di Laweyan, maka di suatu Senin siang yang mendung saya, bertiga dengan teman memutuskan untuk blusukan ke Laweyan. Dengan memanfaatkan kereta Prameks, kami berangkat menuju Stasiun Purwosari di Solo.

Sampai di Solo, kami memutuskan untuk modal dengkul saja alias jalan kaki menuju Laweyan dari stasiun. Tidak begitu jauh juga sebenarnya. Lagipula saat itu semangat backpackeran sedang merajai hati kami. Saat itu kami ingin mencoba merasakan jalan-jalan ala backpacker seperti yang biasa kita lakukan jika sedang blusukan ke negara tetangga.

Berbekal google maps dan segepok perasaan ‘sok tahu’, akhirnya sampai juga kami di Laweyan. Di mulut gang terdapat beberapa becak yang sedang mangkal di sana. Melihat kami, mereka bergegas menawarkan jasa keliling-keliling kampung dengan menggunakan becak. Tetapi kami memilih untuk blusukan sendiri saja.

Sebagai perbandingan, blusukan di Laweyan jauh lebih mudah ketimbang blusukan di Kotagede. Ada peta kawasan yang cukup besar terpampang di dekat Tugu Batik, sebuah focal point kawasan ini yang terletak tak jauh dari pintu masuk kawasan. Selain itu, di toko-toko batik yang berjajar di kawasan ini umumnya juga memasang peta kawasan Laweyan meski tak sebesar versi Tugu Batik.

Iseng saya mendatangi salah satu toko batik di tempat ini. Batik-batik Solo yang corak dan warnanya jauh lebih meriah daripada batik Yogya agaknya mulai menyita perhatian. Satu jam pertama acara blusukan diisi dengan keluar-masuk toko batik. Sayangnya, saya dan teman-teman tak berkesampatan menengok rumah-rumah gedong berpagar tembok para juragan batik.

400914_3125127566269_1207039768_3390506_1610976407_n
Rumah Idaman
413641_3125448494292_1207039768_3390576_1951726114_o
Grande

388304_3124131381365_1207039768_3390199_1133581496_n

Selain batik dan rumah-rumah khas Laweyan, saya tak sengaja menemukan ini: Ledre Ibu Sri Martini. Letaknya agak masuk di sebuah gang kecil tetapi lagi-lagi papan petunjuk arahnya cukup jelas. Jika bingung, bertanyalah pada tukang-tukang becak yang sedang menunggu rejeki di seputaran Tugu Batik.

397512_3125410133333_1207039768_3390570_1341955777_n
Ledre legendaris Laweyan

Ledre ini legendaris nian. Terbukti dengan terpampangnya kliping berita mengenai ledre ini dari surat kabar di dinding rumah pemiliknya. Satu kotak ledre kami nikmati di sebuah pos ronda di dekat Tugu Batik. Sambil membaui tanah basah akibat gerimis yang mulai turun.

Sore kian menjelang. Meski belum cukup puas menjelajah kawasan ini namun kami harus bergegas pulang. Mengantar teman yang ingin bersembahyang, saya akhirnya terdampar di masjid kuno di kawasan ini. Masjid Al Ma’moer, masjid yang dibangun tahun 1945 merupakan salah satu masjid yang membuat saya kerasan dan kagum akan kesederhanaan (tapi luar biasa) arsitekturnya. Sedikit mengingatkan saya pada arsitektur masjid di Saigon.

388521_3125219648571_1207039768_3390524_1686760035_n
‘Koelah’ dan ‘Kakoes’
388710_3124767997280_1207039768_3390365_1717638417_n
Menara Masjd
415955_3125223208660_1207039768_3390532_237847965_o
Tempat Wudlu

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *