July 24, 2015 jejakkakirani 0Comment


2012-09-05 10.58.45

Secangkir kopi di penghujung pagi terasa sempurna. Sambil duduk nongkrong di sebuah warung kopi yang bertetangga dengan sebuah pesantren, saya tengah mengalami suatu pengalaman ngopi sambil melukisi batang-batang rokok.

Lasem, sebuah kota kecamatan di ujung utara-timur Jawa Tengah, kota terakhir sebelum masuk ke wilayah Jawa Timur, memang sangat terkenal kopi leletnya.  Sebelum berangkat, saya sempat melakukan riset singkat lewat dunia maya dan mendapati istilah ‘kopi lelet’.. Wah…ada apa dengan kopi lelet Lasem?

Di warung kopi John di jalan Soditan ini saya pada akhirnya Suasana siang itu sepi. Kami memilih duduk di pojokan. Memesan lima cangkir kopi. Sambil menunggu kopi datang, saya diberi sedikit cerita mengenai proses pembuatan kopi Lasem. Pada umumnya kopi Lasem ini adalah produk rumahan. Banyak orang-orang di Lasem yang masih rajin membuat kopinya sendiri. Biji kopi mula-mula dipisahkan. Yang utuh dan yang sudah pecah. Masing-masing disangrai lalu ditumbuk halus. Tentu saja dengan diberi berbagai ramuan.Salah satu keunggulan pada kopi Lasem adalah butiran bubuknya yang sangat halus.

Sampai disitu saya merasa bahwa secangkir kopi yang terhidang tepat di depan saya sarat akan berbagai proses rumit, njelimet, dan tentunya satu sendok teh bubuk kopi Lasem itu sarat dengan ketekunan, ketelatenan, dan kesabaran dari para pembuatnya.
Kopi di cangkir masih panas. Saya mengambil tatakan di bawahnya dan menuang sedikit kopi ke dalam tatakan itu. Perlahan saya menghirupnya. Nikmat, meski tak segarang kopi Aceh atau kopi Aroma.
Kembali saya, sambil meneguk kopi perlahan mempertanyakan mengena istilah ‘lelet’ yang melekat di kopi lasem tersebut. Mengapa bisa kopi Lasem dikenal juga sebagai kopi lelet?
Jawabannya ada pada dua orang remaja yang asik ‘melukis’ di atas batang-batang rokok. Ah, kenapa pula rokok-rokok itu harus ‘dilukis’ sedemikian rupa?

Saya mengamati kedua pemuda itu. Ada yang menarik dari ritual ngopi yang mereka lakukan. Jadi, setelah secangkir kopi dihidangkan, maka kopi itu dituang pada tatakan cangkir kemudian didiamkan. Biarkan semua ampasnya mengendap. Setelah mengendap, perlahan kopi dituang kembali ke dalam cangkir tapi diusahakan ampasnya tertinggal di tatakannyai. Setelah itu kopi siap dinikmati.

Lalu, apa guna ampas kopi tadi?

Biasanya, bagi sebagian orang menikmati secangkir kopi kurang lengkap rasanya bila tidak dengan disertai menghisap rokok. Demikian pula di Lasem. Tapi, sebelum rokok dihisap, terlebih dulu ampas kopi yang ada di tatakan tadi di ‘lelet’kan pada kertas pembungkus rokok.Bisa dikatakan ampas kopi tersebut digunakan untuk membatik rokok. Setelah rokok-rokok itu ‘dibatik’ maka rokok tersebut baru siap untuk dihisap. Bagi orang Lasem, merokok batang rokok yang sudah dilukis oleh ampas kopi tadi menghasilkan rasa rokok yang lebih garang. Dan nikmatnya jadi luar biasa.

2012-09-05 11.02.14
Ritual ngopi pertama
aa
Ritual ngopi kedua: melukis batang rokok
bbb
Hasil karya

Hingga saat saya harus meninggalkan warung kopi ini, mayoritas peserta ngopi masih sibuk melakukan ritual ngopi sambil ngeleleti batang rokok. Terakhir seorang tua berkain sarung dang berkopiah datang bersama beberapa temannya. Agaknya Ibadah ngopi lelet memang sudah menjadi ibadah wajib bagi sebagian besar masyarakat Lasem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *