July 24, 2015 jejakkakirani 0Comment
code
Kampoeng Code

Jam setengah lima sore. Di pinggir sungai Code saya duduk menikmati sisa mentari, sebelum kemudian hilang dan langitpun menggelap. Sementara itu, segerombolan anak-anak Code sedang bermain di sungai. Saling menyirati, mencari ikan, sambil sesekali tertawa-tawa kegirangan. Tapi agaknya kedatangan saya sore itu mendistraksi anak-anak yang sedang bermain. Beberapa menghampiri saya dan teman, kegirangan melihat kamera SLR dan gadget yang kami bawa. Bak model, mereka langsung bergaya. Minta difoto. Olala…rupanya narsisme memang telah menjadi milik semua orang!

Sementara teman saya sibuk menjadi fotografer para generasi cilik Code, saya mulai menyusuri lorong-lorong Code. Sekaligus menelusuri maha karya almarhum Romo Mangun.

Code yang diwarnai dengan undak-undakan dan rumah-rumah sederhana berbentuk kotak nyatanya sedikit mengingatkan saya pada perkampungan di Afghanistan sana (yang saya lihat lewat google image). Meskipun  beberapa rumah tampak tak terawat, tetapi secara keseluruhan Kampung Code ini lumayan rapi. Ah, berkat Romo Mangun tentunya! Iseng saya sempat mengintip ke dalam rumah lewat pintu-pintu yang sedikit menganga.

Kemudian saya menemukan ini. Sebuah bangunan dua lantai yang terbuat dari bambu. Kotor, berdebu, tapi menarik perhatian. Perlahan saya menaiki tangganya. Sebuah ruangan penuh dengan buku anak ada di sana. Sayangnya, ada sebuah gembok terpasang di pintu.

Bangunan itu, adalah perpustakaan Romo Mangun. Begitu menurut cerita salah seorang penduduk yang kebetulan rumahnya berada di belakang bangunan ini.

blogger-image--1093867025

Setelah menuruni tangga perpustakaan, saya kembali menyusuri lorong-lorong berundak itu. Segerombolan ibu-ibu sedang berbincang di sana. Seru.  Sesekali mereka mengawasi anak-anaknya yang sedang bermain di sungai.  Sementara di satu sudut seorang bapak muda sedang menggendong anaknya yang masih bayi. Di sudut lain, seorang ibu sedang memandikan anaknya yang masih balita.

Kembali ke sungai, anak-anak yang bermain di sana semakin banyak. Beberapa anak perempuan ikut bergabung meramaikan suasana. Dan, lagi-lagi, mereka berulang kali meminta untuk difoto.

Jingga, seorang anak perempuan berponi tanpa malu-malu bergaya, berganti pose, dan sangat mendominasi sang fotografer. Meski sesekali diganggu oleh teman-temannya tapi ternyata ia cuek saja!

IMG_9928

blogger-image--381523005
Jingga

Sementara para anak asyik bermain di sungai, beberapa remaja tanggung sibuk mencari ikan di sungai. Entah ikan apa yang mereka cari. Tapi, beberapa jagoan cilik Code mengungkapkan jika ikan-ikan di sungai ini enak jika disantap. Tentu saja setelah terlebih dahulu digoreng!

Satu jam satu sudah saya dan teman bercengkerama dengan anak-anak Code. Ketika azan Magrib mulai berkumandang, saya berpamitan kepada mereka. Beberapa orang tua menghampiri anak-anaknya dan menyuruh mereka pulang. Setelah Magrib turun, mereka semua – para anak tersebut – harus belajar bersama di sebuah balai. Beberapa anak enggan pula dan masih terus mengikuti kami. Hingga akhirnya ketika kami berada di bibir gapura, mereka melambaikan tangannya.

“Datang lagi ya, Mbak!”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *