October 12, 2015 jejakkakirani 0Comment

ananta1

 

Tepat sebelum  meninggalkan Bangkok dan pulang ke Indonesia, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Ananta Samakhom di daerah Dusit. Sejak hari pertama  berada di Bangkok, entah telah berapa kali pengemudi tuk-tuk membawa saya melewati tempat ini. Bangunan ini begitu menarik perhatian. Di belantara Wat dengan gaya arsitektur yang mirip-mirip – atap meruncing ke atas berwarna kuning keemasan dengan detail yang rumit-, keberadaan bangunan bergaya Eropa ini menjadi semacam oase.

Setelah BRT berhenti di stasiun Victory Monument, saya masuk ke sebuah bis kota yang akan melewati Dusit. Sistem bis kota di Bangkok ternyata mirip dengan bis kota di Indonesia pada umumnya. Ada seorang kondektur yang berkeliling menarik ongkos. Tapi, jangan harap si Kondektur bisa berbicara bahasa Inggris. Setelah berjibaku dengan ‘bahasa Tarsan’ akhirnya si kondektur menyobek tiket bis dan mengulungkannnya pada saya.

blogger-image--1749666503

Karena sehari sebelumnya sudah berkunjung ke Grand Palace, maka seharusnya saya tidak perlu membayar lagi tiket masuk ke tempat ini. Namun, tiket Grand Palace saya hilang. Terpaksa  50 Baht harus dikeluarkan agar bisa masuk ke tempat ini. Lalu ada 20 Baht ekstra untuk membeli sarung karena saya memakai celana panjang. Ya! Pengunjung wanita ke tempat ini diharuskan mengenakan rok panjang. Atau jika telanjur memakai bawahan selain rok panjang , maka harus menggunakan sarung. Jika tidak bawa sarung? Silakan beli sarung yang memang sudah disediakan oleh tempat ini.

Berada di Ananta Samakhom membuat saya lupa kalau saat ini saya sedang berada di Bangkok. Rasa Eropanya begitu kuat. Bangunannya sendiri berlanggam neo-klasik renaisssance dengan atap kubah.  Ananta Samakhom ini dulunya adalah istana raja. Sekarang bangunan ini digunakan sebagai sebuah museum yang koleksinya berupa segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan keluarga raja, tentang sutra dan kerajinan khas Thailand serta partisipasi dari Sirikit Foundation yang menjadi salah satu penggerak industri kerajinan khas Thailand.

Sebelum masuk ke dalam ruang-ruang di tempat itu, saya harus menitipkan tas terlebih dahulu di loker. Termasuk kamera dan ponsel! Semua koleksi di dalam ruang ini memang tidak boleh difoto. Lalu, tepat sebelum saya memasuki ruangan, saya diberi peralatan serupa remote televisi yang gunanya adalah sebagai tour guide sekaligus translator. Cara kerjanya lumayan unik. Remote itu nantinya diarahkan ke setiap papan keterangan yang berada di bagian depan setiap koleksi sambil memencet salah satu tombolnya. Setelah itu, remote tersebut kita dekatkan ke telinga. Posisinya mirip dengan ketika kita sedang memakai ponsel.

Nyaris dua jam saya berada di dalam museum. Mengagumi koleksi-koleksi tempat ini yang menurut saya keren sekali. Terutama di bagian sutra dan pernak-pernik khas Thailand. Keluar dari gedung museum, saya menemukan sebuah coffee shop mungil di salah satu sudut halaman Ananta Samakhom. Sebuah coffee shop yang cukup cozy namun memang sedikit tak bersahabat dengan Baht di dompet.

Sebelum jam satu siang saya memutuskan meninggalkan tempat ini. Menembus panasnya Bangkok menuju ke tempat menarik lainnya di kota ini sebelum malamnya saya harus kembali ke tanah air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *