November 4, 2015 jejakkakirani 0Comment

 

The coffee shop

Secangkir kopi Kilimanjaro-El Savador terhidamg di meja kayu berwarna putih. Dengan penuh rasa penasaran saya menghirup aromanya. Tajam sekaligus manis. Teman ngopi saya bercerita bahwa kopi ini diproses secara natural (dijemur tanpa melalui proses pencucian dengan air setelah dipanen), diracik dan dihidangkan dengan  filter seperti layaknya menghidangkan kopi vietnam. Sengaja saya tidak menambahkan gula karena di Indonesia saya memang pecinta kopi tanpa gula. Batas toleransi kepahitan saya memang cukup tinggi.

 
Sesapan pertama? Luar biasa! Mungkin karena selama dua bulan ini saya hanya mengkonsumsi ‘kopi cantik’ dari Costa atau gerai kopi mainstream lainnya. Jadi, bisa dibilang kopi Kilimanjaro-El Savador ini menjadi semacam pengobat rasa rindu akan kopi-kopi khas Indonesia yang biasa dikonsumsi kala berada di sana. Kerennya lagi, kopi di sini benar-benar fresh! Dan siapa sangka saya bisa menikmati kopi Kilimanjaro! Saya bahkan tidak pernah tahu bahwa ada jenis kopi Kilimanjaro di dunia ini.

 
Hal luar biasa lainnya adalah, coffee shopnya itu sendiri. Berada di pusat keramaian, tempat ini dapat dianalogikan sebagai sebuah tempat persembunyian yang sempurna, yang agaknya dapat membuat siapapun betah berlama-lama di sini. Flat Caps Coffee Shop! Begitu orang menyebut tempat ini. Berada di tempat yang nyaman dan tersembunyi ditemani secangkir kopi hitam membuat sore yang dingin dan hectic jadi berasa indah.

Dua jam hingga akhirnya kopi di dalam cangkir berwarna hitam ini tandas. Sebenarnya enggan untuk mengakhiri sesi ngopi sore hari. Tapi, sebelum langit berganti gelap dan bumi menjadi semakin dingin, saya harus bergegas pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *