January 1, 2016 jejakkakirani 0Comment

Braga kerap membuat saya gundah. Secara personal, tempat ini menyimpan banyak memori yang seringnya ingin saya lupakan. Namun, siapa yang mampu menolak keelokan Braga? Maka, pagi itu saya memutuskan untuk menjumpai Braga yang katanya sedang rajin bersolek bak perawan yang sedang mekar-mekarnya. Petualangan dimulai dari ujung Braga – tempat dimana angkot Kalapa-Ledeng menurunkan saya.

“Braga, neng!”

Bergegas saya turun, mengulurkan dua lembar uang dua ribuan.

Si Mang Angkot memberikan kembalian dan begitu saya menerimanya, angkot itu segera berlalu. Meninggalkan asap yang sialnya harus saya hirup. Ugh, tahu begitu saya harusnya memakai masker…

Namun kekesalan saya mendadak hilang ketika menangkap sosok gedung Landmark. Gedung yang dulu sekitar pertengahan 90-an (apakah sekarang juga masih?) seringnya digunakan sebagai tempat pameran komputer.

Pagi itu, Braga sudah ramai. Para pekerja sibuk mendandani trotoar. Maklum saja, KAA (Konferensi Asia Afrika) sudah tinggal hitungan hari. Suara gerinda berpadu dengan tegel. Percikan api yang dihasilkan dari mesin las menambah semarak pagi. Sementara beberapa bocah berseragam merah-putih berjalan sambil berjingkat-jingkat diantara tumpukan tegel dan kabel-kabel yang berserakan.

Braga memang masih seperti dulu meski tentu saja harus diakui bahwa Braga semakin genit akhir-akhir ini.

“Sendirian saja?” seorang pekerja menyapa saya.

Saya cuma mengangguk sambil tersenyum.

Sebenarnya pagi itu saya ingin melewatkan hari di Sumber Hidangan – sebuah resto es krim jadul yang kelezatan es krimnya setara dengan es krim di Toko Oen Semarang. Tapi rupanya kedai es krim legendaris itu baru buka jam sembilan an. Sedangkan saya harus segera bergegas ke Toko Kopi Aroma untuk berbelanja beberapa bungkus kopi. Jadi akhirnya diputuskan bahwa Sumber Hidangan bisa menunggu. Pagi ini, sebelum  melangkahkan kaki ke arah Banceuy, saya membiarkan diri larut ke dalam keriuhan Braga.

Takjub! Braga ternyata lebih indah dibanding dulu. Terima kasih kepada KAA yang sebentar lagi akan diselenggarakan di sini. Bangunan-bangunan tua itu masih terawat. Sebagian di cat ulang. Beberapa bangunan tua itu ada yang beralih fungsi menjadi kafe atau hostel. Beberapa masih tetap berfungsi seperti dulu.

Seorang pramusaji sebuah kafe pagi itu sudah terlihat sibuk. Setelah menyapu ruang kafe, sambil membawa lap ia berjalan keluar. Sambil bersiul-siul, ia menunaikan tugas paginya dengan penuh semangat. Melap daun-daun jendela berwarna coklat tua sambil sesekali berceloteh riang dengan para pekerja yang berada tak jauh darinya.

Selain deru kendaraan, pagi itu Braga juga diramaikan oleh celoteh riang para penumpang kendaraan wisata. Wow!! Tak disangka banyak yang ingin menikmati Braga di pagi hari. Mungkin memang lebih baik di pagi hari, karena di siang hari jalanan ini akan berubah menjadi tak nyaman akibat puluhan mobil yang berjejal di tempat ini.

Semakin siang Braga semakin panas. Bergegas saya berjalan meski beberapa kali harus berhenti karena ada saja sudut Braga yang menarik untuk difoto. Hingga pada akhirnya di penghujung jalan, tepatnya di seberang Museum KAA, saya duduk di sebuah bangku taman yang ada di situ. Hanya duduk diam dan berusaha menikmati Braga pagi ini. Harus diakui, Braga menjelang KAA memang berubah menjadi cantik. Bila diibaratkan wanita, Braga adalah seorang wanita paruh baya atau mungkin bisa dikatakan mulai memasuki usia senja namun selalu berusaha untuk tampil segar dan chic demi sebuah perhelatan internasional yang luar biasa. Selain itu, Braga menjelang KAA agaknya menjadi sebuah destinasi selfie baru bagi para warga Bandung maupun bagi para wisatawannya. Lihat saja! Tak jauh dari bangku tempat saya duduk, tiga orang pria berpakaian rapi ala pria-pria kantoran membawa smartphone lengkap dengan tongsisnya dan berpose dengan latar pemandangan Jalan Braga maupun Jalan Asia Afrika.

Ah! Selamat menyambut KAA, Braga!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *