January 1, 2016 jejakkakirani 0Comment

nyebrang

Bagi sebagian wisatawan, menyeberang di jalanan kota Saigon itu sungguh menantang. Buat yang terbiasa hidup di kota atau negara yang lalu-lintasnya serba teratur, maka menyeberang di Saigon itu bisa membuat stres. Seperti banyak kata orang di situs-situs perjalanan, Saigon itu bisa dibilang sebagai the capital of motorcycle atau┬áibukotanya sepeda motor. Artinya, banyak sepeda motor berlalu-lalang di jalanan Saigon. Yang membuat sebagian wisatawan itu merasa ngeri adalah karena gaya mengendarainya yang terkesan asal-asalan. Teman saya berkata, “Seharusnya kamu nggak usah kuatir tentang lalu lintas Saigon. Kamu kan penduduk Indonesia! Mestinya kamu sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.” Saya cuma terkekeh. Tapi apakah memang betul begitu?

Satu hal yang sedikit membuat saya harus beradaptasi dengan masalah seberang-menyeberang itu adalah, perbedaan jalur berkendara mereka. Di Indonesia, kita terbiasa berjalan di sisi kiri, kan? Di sana, mereka berjalan di sisi kanan. Malam pertama saya berada di sana, saya harus membiasakan diri dengan ‘tengok kiri dulu baru kanan’. Dan jika harus menyeberang di dekat belokan maka, sekali lagi, di Saigon belok kanan adalah jalan terus! Setelah masa adaptasi itu teratasi, maka menyeberang di jalanan kota Saigon memang tak ubahnya menyeberang di jalanan Indonesia.

Empat hari saya berada di sana, tak satupun saya melihat ada kejadian penyeberang ditabrak atau tertabrak motor. Tidak pernah juga terdengar orang memaki akibat masalah penyeberangan itu. Pengalaman saya, meski mereka terlihat asal namun sebenarnya mereka punya tingkat kewaspadaan yang cukup baik terhadap para pengguna jalan lainnya. Jadi, jika ada orang tiba-tiba menyeberang dan menyeberangnya tidak di tempat semestinya, mereka selalu memberi kesempatan pada para penyeberang untuk menyeberang lebih dahulu. Demikian pula jika mereka harus berkendaraan di trotoar. Sebagai info, trotoar di Saigon juga berfungsi sebagai tempat parkir motor. Jadi, bukan hal yang aneh jika ada orang yang berkendara di trotoar Nah, mereka tak segan-segan membunyikan klakson untuk memberitahu kalau mereka hendak lewat dan kita menghalangi mereka. Kalau kita tidak menepi, maka mereka tetap melaju namun perlahan dan memberi tahu kita dengan sopan.

Terkait dengan masalah wisatawan yang takut menyeberang di jalanan Saigon, beberapa kali saya menyeberangkan wisatawan-wisatawan Jepang dan Australia. Terkadang saya juga merasa ada yang nebeng nyeberang ketika saya sedang menyeberang. Tak jarang saya mendapatkan pujian karena cukup berani dan tegar menyeberang di jalanan Saigon. Saya cuma nyengir saja. Dan ingatan saya langsung terbang ke jalanan di tanah air.

Sedihnya, saya harus mengakui bahwa jalanan di Saigon ternyata masih jauh lebih ramah daripada jalanan di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *