January 27, 2016 jejakkakirani 0Comment

_DSC9274

“Mari duduk di sini….! Malaysia?” seorang lelaki asli Essaouira menawari saya duduk di sebelahnya.

“Saya bukan Malaysia. Saya dari Indonesia!”

“Indonesia…?? Wahh…. sungguh??? Saya belum pernah bertemu dengan orang Indonesia!”

Saya cuma tersenyum. Sambil merapatkan coat saya pun duduk di sebelahnya. Sedikit tak menghiraukannya, saya terlalu asyik mengambil gambar dari kamera. Namun, angin yang semakin menggila membuat saya akhirnya memilih untuk memasukkan kamera ke dalam tas. Musim dingin di Maroko memang tidak separah di Inggris. Jika siang, matahari lumayan terik. Suhunya sekitar dua puluhan derajat. Namun, duduk di atas tembok pembatas laut membuat saya harus rela diterpa angin yang lumayan kencang. Semuanya demi sepotong senja.

Lelaki yang menyapa saya tadi mengenalkan dirinya sebagai seorang nelayan. “My boat is my university” begitu katanya ketika ia tahu bahwa saya adalah seorang Indonesia yang sementara ini bermukim di Inggris untuk menuntut ilmu. Lalu sore itu, sembari menunggu senja, kami berbincang mengenai berbagai hal. Mulai dari budaya orang Maroko, agama, hingga terorisme. Sayangnya, tak ada secangkir kopi yang menemani perbincangan ini.

Ketika langit mulai beranjak gelap, ia mengajak saya untuk berjalan hingga ke ujung tembok. Sebuah tempat ‘persembunyian’ yang sempurna untuk menikmati senja sekaligus terbebas dari sergapan angin. Ketika saya takut-takut menuruni bebatuan, dia mengulurkan tangannya. “Saya yang akan menjagamu,” ujarnya waktu itu.

Sepuluh menit kemudian saya cuma bisa terpaku, tak berbicara satu patah katapun, Senja di Essaouira demikian indahnya. Birunya langit yang bertransisi menuju jingga, matahari bulat sempurna, dan pantulan keemasan di permukaan laut benar-benar menyita seluruh perhatian. Siluet burung camar yang berseliweran di langit menambah sempurna senja sore ini. Sungguh sebuah senja yang luar biasa!

_DSC9257

“Saya bukan muslim yang religius. Tapi, melihat senja terutama ketika saya berada di atas kapal membuat saya jadi merenungkan. Betapa luar biasanya Sang Pencipta karena menciptakan hal yang luar biasa indah seperti ini.”  Ah, religiusitas manusia memang terkadang muncul dari sesuatu yang indah. Lalu nelayan itu berkata lagi, “Jika kelak kau menemui senja, maka ingatlah akan senja hari ini. Ingatlah meski kita mungkin hanya akan bertemu sekali, namun setidaknya engkau pernah menikmati senja bersama seseorang yang dengan tulus mengulurkan persahabatan.”

Sayang, ketika saya melewati gerbang Essaouira Rampart nelayan itu memilih tetap untuk berada di sisi pelabuhan. “I don’t belong to the city. My teritory is here. At the port.” Sebelum saya benar-benar hilang dari pandangannya, setengah berteriak ia berkata, “Au Revoir!” 

Selamat tinggal…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *