March 3, 2016 jejakkakirani 0Comment

Usianya sekitar sebelas tahun. Bocah laki itu berlari ke sana kemari. Berkejar-kejaran dengan kawan-kawannya. Sesekali menarik-narik rambut teman perempuannya yang sedang sibuk membantu ibunya berjualan di jukung mereka.

Saya tak tahu siapa nama bocah itu. Keterbatasan bahasa telah membuat kami tak saling bertegur sapa. Tapi bukan berarti tak saling kenal.

Saya sedang duduk sendiri di dalam perahu yang akan membawa saya menyusuri kanal Amphawa. Menunggu penumpang yang lain bergabung. Dalam kesendirian, saya merasa haus. Dengan bahasa tubuh sebisanya, saya memanggil bocah itu untuk minta dibelikan sebotol air mineral.

Bocah-bocah Amphawa yang bermain di pinggir kanal ini terkadang memang berubah peran. Dari bocah-bocah ribut yang tak pernah bisa diam sejurus kemudian berubah menjadi pramusaji yang piawai bagi para pedagang pasar terapung. Pasar terapung Amphawa memang merupakan pasar terapung kuliner.

Dengan sedikit berteriak, si bocah lelaki itu memberitahukan ke salah satu pedagang minuman bahwa ada yang ingin membeli sebotol air mineral. Sebotol air mineral diletakkan dalam keranjang plastik kecil yang telah diikat pada sebuah tongkat. Si bocah meraih keranjang tersebut, mengambil air mineral, dan mengulungkannya pada saya. Setelah itu saya menaruh uang ke dalam keranjang. Bocah itu mengulungkan keranjang kembali ke penjual minuman.

Wajah mereka akan bertambah berseri bila ada pembeli yang memberi mereka tip sekedarnya. Seorang bocah perempuan membeli sebuah es krim kegemarannya dengan menggunakan uang tip tersebut.

Bocah-bocah Amphawa yang sederhana itu masih saja terus berlarian. Bermain. Meski sesekali harus menjadi perantara antara si pembeli dan penjual. Hingga perahu berangkat, bocah-bocah itu masih tetap berada di sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *