March 3, 2016 jejakkakirani 0Comment

lost

 

Kami hanya bisa memelototi peta yang ada di tangan. Tujuan kami jelas:  Cho Dan Sinh, sebuah pasar yang menjual barang-barang perang. Dalam persepsi kami berempat, Cho Dan Sinh adalah sebuah pasar permanen besar yang bahkan dari luarnya pun telah terlihat barang-barang yang diperdagangkan: seragam tentara, topi tentara, sepatu, mungkin juga ada semacam replika AK47. Nyatanya, ketika kami tiba di daerah itu, yang terlihat di sekitar area itu adalah toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti ember plastik, magic jar, kompor, dan ada juga deretan toko yang menjual alat-alat perbengkelan semacam bor, mur, dan baut. Nah…lalu di mana perlengkapan perangnya?

Mulanya, kami berusaha mencari sendiri, mencocokan peta dengan situasi ‘lapangan’. Namun, agaknya peta yang kami punya memang tidak terlalu komplit. Akhirnya kami menyerah. Lalu kami mencoba bertanya kepada orang. Setelah menerima penolakan dari beberapa masyarakat lokal (iya, kami ditolak karena bertanya dalam bahasa Inggris. Sedangkan mereka tidak bisa berbahasa Inggris). Tak putus asa, sasaran kami berikutnya adalah seorang satpam sebuah bank yang sedang duduk di emperan dekat pintu masuk bank. Persepsi kami (lagi!) mungkin pak satpam bisa atau mengerti sedikit-sedikit bahasa Inggris. Tapi ternyata sama saja! Yang terjadi….kami malah serasa seperti main kuis jadul yang dulu ngetop banget…Win, loose, or draw! Berbekal peta, kertas, dan kemampuan gambar seadanya, kami berusaha menerangkan apa yang sedang kami cari.

Putus asa karena mereka tidak kunjung mengerti akhirnya kami memutuskan untuk mengitari daerah Cho Dan Sinh itu. Dan tetap tidak ketemu!!!

Akhirnya, dengan gontai kami punsa berjalan pulang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *