March 3, 2016 jejakkakirani 0Comment

IMG_3065

Tak sengaja saya menemukannya! Sebuah kios berpintu biru yang didalamnya terdapat bilik kecil kombinasi kaca dan kayu bercat biru pula. Dan sebuah kotak berwarna keperakan ada didalamnya.

Teleboutique, begitu tulisan yang tertera di atas pintu masuk kios tersebut. Saya cuma bisaI terperangah. Masih ada wartel di Marrakech??

Lalu ingatan saya melompat ke masa akhir 90 awal 2000, taktala ponsel baru saja meramaikan pasar perdagangan Indonesia. Awal-awal kemunculannya, wartel masih berjaya. Wartel di Indonesia berbentuk mirip dengan wartel yang saya temui di Marrakech ini. Bilik-bilik separuh kaca separuh panel kayu dengan luasan kurang lebih tiga meter persegi. Buat saya, wartel itu epik! Kisah hidup saya banyak bersinggungan dengan tempat tersebut.

Kembali lagi ke Marrakech, terus terang saya tak pernah mengira akan bertemu dengan bilik itu lagi. Meski begitu, suasana di wartel tersebut sepi. Pemiliknya sibuk bercakap-cakap dengan toko kelontong di sebelahnya. Tak ada satupun pengunjung yang menggunakan fasilitas tersebut. Lagipula, layaknya di negara-negara maju, penduduk Marrakech rata-rata memang sudah memiliki ponsel. Meskipun masih banyak yang belum menggunakan ponsel pintar.

Di sudut jalan yang lain kira-kira tujuh ratus meter dari tempat itu, saya menemukan wartel yang lain. Suasananya pun sama. Muram. Dan tanpa pengunjung. Ironisnya, beberapa anak muda usia belasan tampak bergerombol di situ dan beberapa diantara mereka sibuk bermain dengan ponselnya.

Agaknya, eksistensi wartel di Marrakech tinggal menunggu waktu……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *