August 1, 2016 jejakkakirani 0Comment

_DSC0785

Di pojok taman, sambil memandangi perahu yang berseliweran di Sungai Avon, kedua pasangan itu bertukar kecupan. Tangan mereka saling bertautan, tak sekalipun terlepas. Saya cuma bisa gigit jari. Iya, sih! Bath memang romantis. Bagi pecinta bebatuan dan arsitektur masa lampau, tidak ada tempat yang jauh lebih romantis dari sebuah candi atau kota lama.

Bath, yang saat ini telah dianugerahi label sebagai Unesco World Heritage Site, memang berhasil memaksa saya untuk datang berkunjung meskipun saya tahu di musim panas seperti ini, Bath pasti penuh dengan para turis dari berbagai ujung bumi. Tapi, Roman Bath yang terkenal itu rasanya sayang jika tidak dikunjungi. Dan, ditengah teriknya matahari musim panas dan lautan manusia, saya membelah dan menyelusup ke dalam sendi-sendi Bath.

Cinta pertama saya pada Bath bersemi tepat ketika saya keluar dari pintu stasiun. Deretan bangunan berarsitektur masa abad 18 dengan pilar-pilar kokoh menyapa. Teringat gedung Royal Theatre di Newcastle. Sengaja berjalan lambat menyusuri pusat kota, terasa sekali aroma  lama dan baru menyeruak dari area itu.

_DSC0727

 Sederhana saja bila ingin menikmati Bath. Setelah berdesak-desakan di spot yang turis banget semacam Roman Bath, saya cukup mengelilingi Bath dengan berjalan kaki. Menyusuri pinggir sungai, menikmati terik matahari Inggris bagian selatan di taman, menyelusup ke dalam dunia Jane Austen, hingga akhirnya terdampar di sebuah lapangan rumput di Royal Cresscent sambil menyaksikan sebuah acara musik yang diadakan dalam rangka penggalangan dana. Sengaja tidak keluar-masuk museum karena memang saya hanya ingin menikmati Bath dengan cara yang sederhana. Toh, tetap saja…..saya tak menyangka akan sebegitu cepatnya jatuh cinta dengan kota ini. Fall so deep in love.

Karena memang Bath layak untuk dicinta!

_DSC0747
Roman Bath

IMG_7429

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *