August 2, 2016 jejakkakirani 0Comment

IMG_8710

Selamat datang di kota dimana warung kopi atau coffee shop bertebaran di segala penjuru kota. Bahkan juga tumbuh subur di daerah yang tak banyak dikunjungi oleh wisatawan. Ah! Entah mengapa coffee shop begitu mudahnya ditemukan di sini. Bikin saya tergoda saja! Sebagai pecinta kopi, saya memang (seringnya) menyempatkan diri berkunjung ke coffee shop di tempat ini. Random saja. Namun, dibalik kopinya yang lebih pahit ketimbang kopi yang biasa disuguhkan di kafe-kafe di Inggris, ternyata ada hubungan unik antara kopi di coffee shop dengan air putih. Jika kita memesan, ehm, katakanlah cappucino, maka yang akan disuguhkan adalah secangkir cappucino dengan segelas air putih. Aih!

Pada mulanya, saya berpikir bahwa segelas air putih yang ikut disediakan itu sebagai penetral rasa yang tertinggal di mulut akibat ngopi. Tapi ternyata dugaan saya salah. Ingrid, seorang pemandu wisata tip-based tour yang saya ikuti kemarin berujar, “Selamat datang di Vienna, sebuah kota dengan tingkat kejahatan yang rendah, air berkualitas prima sehingga bisa langsung diminum dari keran, dan coffee shop yang bertebaran di mana-mana!”  Lalu lanjutnya lagi, “….sehingga, sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada para tamu yang mampir ngopi maka coffee shop – coffee shop tersebut memberikan salah satu yang terbaik, yaitu air putih!”

Aha! Ternyata itu penyebabnya. Mungkin memang saking bagusnya kualitas air di Vienna sampai-sampai hal tersebut sangat dibanggakan, salah satunya yaitu dengan menyuguhkannya sebagai pelengkap minum kopi. Menariknya lagi, air putih yang disediakan itu bisa diisi ulang sebanyak yang kita mau. Dan tak berbayar alias gratis!

Hal yang lebih mengharukan lagi adalah, para pramusaji itu tak pernah peduli mau seberapa lama para tamu nongkrong di coffee shopnya. Meski terkadang cuma memesan secangkir cappucino dan berkali-kali mengisi ulang air putih gratisan tersebut. “Yah, bukankah salah satu fungsi diciptakannya coffee shop itu adalah sebagai tempat ngopi sekaligus bersosialisasi atau sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sampingan semacam bekerja, menulis, atau bahkan membaca?” sekali lagi Ingrid memaparkan hal unik mengenai coffee shop di Vienna.

Pun sekarang, setelah satu jam lebih saya ngopi di salah satu coffee shop di sebuah sudut Vienna yang lumayan sepi, tak pernah saya mendapatkan tatapan mengusir dari para pramusaji. Mereka membiarkan saya menikmati apa yang sedang saya kerjakan.

Danke schon, Wien…..!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *