August 13, 2016 jejakkakirani 0Comment

_DSC1742

 

Saya tiba di Krakow pukul sepuluh malam. Tergesa keluar dari stasiun bis, kebingungan mencari tram yang akan mengantar saya ke penginapan. Beberapa kali bertanya kepada orang, termasuk petugas sekuriti, tapi mereka cuma menggeleng saja. Bukannya tidak tahu tapi mereka tidak paham bahasa Inggris. Akhirnya dengan sisa tenaga (sungguh sebenarnya saya lelah sekali. Mendarat di Warsaw pukul setengah dua siang lalu pukul empat sudah berada dalam bis dan harus rela sedikit terguncang-guncang selama lima jam setengah menuju Krakow) saya menyusuri pusat perbelanjaan yang menyatu dengan stasiun bis. Tidak ada penanda jelas yang menunjukkan dimana saya harus menunggu untuk mendapatkan tram nomor tiga. Lalu tak sengaja saya melihat itu: sebuah toko suvenir yang sudah tutup tapi lampu di dalamnya masih menyala. Terlihat dari pintu kacanya, dua orang pegawainya sedang beres-beres. Tanpa pikir panjang saya langsung mengetuk pintunya.

Ketika pintu dibuka saya langsung nyerocos: do you speak English? Ketika dijawab ‘iya’ saya langsung lega. Lalu bertanya tentang letak halte tram no tiga tersebut. Dengan singkat ia menjelaskan. Setelah mengucapkan terima kasih, bergegas saya menuju ke tempat pemberhentian tram tersebut.

Krakow, kota yang sebelumnya tak pernah saya dengar, kini masuk dalam daftar central-eastern euro trip musim panas kali ini. Kota yang dinobatkan sebagai UNESCO World Heritage Sites memang konon indah. Saya sudah pesimis sebenarnya, setelah sebelumnya selama lima hari saya mengharu biru di Budapest.

Nyatanya sehari di Krakow (dan dua malam) itu kurang! Berhubung waktu yang begitu singkat, saya sengaja tidak mengikuti petunjuk di apps apapun atau peta wisata manapun karena saya tahu saya akan kecewa. Begitu banyak pastinya yang harus diselusupi sementara waktu saya amat terbatas. Akhirnya berbekal mengintip pokestop di Pokemon Go (eh!) dan google map saya menciptakan free walking tour saya sendiri.

_DSC1766 IMG_9425 IMG_9434 IMG_9444 IMG_9489 IMG_9528

Krakow, jelas adalah sebuah kota yang sedang bersolek, menambal sana-sini, berbenah diri, yang tentu saja, agar para wisatawan datang ke tempat ini. Bukan hanya wisatawan dari negara-negara tetangga saja tapi juga dari benua-benua lain. Jika kita menyusuri old town misalnya, jelas sekali area tersebut adalah area yang diunggulkan. Juga daerah kazimiers yang dulunya merupakan ghetto bagi orang-orang Yahudi. Mal-mal besar dengan gerai-gerai merk internasional juga mulai menjamur. Namun, jika berjalan sedikit keluar dari area unggulan tersebut…jangan kaget! Bangunan kusam dengan tembok terkelupas terkadang dilengkapi dengan corat-coret entah apa kerap ditemukan. Begitu pula toko-toko dengan display yang beraroma jadul. Di sisi seberang sungai Vistula, sebuah jalur (dan mungkin pemberhentian tram?) sedang dibangun.

_DSC1776

Keunikan Krakow yang lain adalah tentang budaya antri. Budaya antri (berbaris ke belakang atau ke samping) agaknya sudah menjadi default bagi masyarakat di sini. Wajar, sih! Sebagai bekas negara komunis, hal antri-mengantri memang jamak dilakukan. Di pasar tradisional “Stary Kleparz” misalnya, orang berbaris mengantri untuk dilayani di sebuah kios.

_DSC1716

Hanya saja, seperti yang telah sempat saya ceritakan di awal kisah, bahasa Inggris bukan bahasa favorit masyarakat di sini. Mereka yang sering bersinggungan dengan turis lah yang mengerti dan mau berbicara bahasa Inggris. Teman saya dan saya sendiri pernah dicuekin ketika bertanya dalam bahasa Inggris karena mereka tidak paham apa yang kami bicarakan.

Namun demikian, Krakow tetaplah Krakow: kota dengan sejuta keunikan. Sehari di Krakow, selamanya diingatan.

Tabik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *