August 22, 2016 jejakkakirani 0Comment

14046117_10210327948814226_5560134982596484823_n

Traveling itu candu! Setidaknya, menurut saya adalah seperti itu. Selalu ada yang mendesak hati dan kaki jika tak sengaja saya mendapati iklan tiket murah atau tanpa sengaja saya mendarat pada sebuah laman di dunia maya yang menyuguhkan gambar-gambar indah atau menarik di suatu tempat. Nyatanya, mencari travelmate atau partner traveling itu gampang-gampang susah. Persoalan mencari partner ini, setidaknya bagi saya, adalah sebuah hal yang cukup melelahkan.

  • Saya harus mencari seseorang yang punya kesamaan minat dengan saya. Ini penting. Karena biasanya dalam menyusun itinerary perjalanan (atau setidaknya mengkonsep! Karena sejujurnya saya tak pernah punya itinerary yang matang dan fix setiap kali melakukan perjalanan) saya akan menyusun berdasarkan prioritas. Tidak semua tempat yang masuk ke dalam kategori ‘must seen’ atau ‘must visited’ akan saya datangi. Kalau memang tidak menarik maka lupakan! Jika partner travelingnya punya minat yang berbeda maka bisa dipastikan akan lumayan berpengaruh pada mood ketika traveling nanti.
  • Saya harus mencari seseorang yang punya kesamaan ritme, karena buat saya, traveling itu bukan semata destinasinya tetapi lebih ke proses traveling itu sendiri. Menikmati segala proses termasuk misalnya harus nyasar atau tersesat entah kemana. Dan saya bukan morning person, sehingga bisa saja waktu jalan-jalan saya dimulai setelah jarum jam melewati angka dua belas.
  • Saya harus mencari seseorang yang waktu selaw nya sama. Ini juga susah, loh! Saya punya beberapa teman yang cocok untuk diajak kabur dan blusukan bareng tapi sialnya waktu senggang kami berbeda. Pas saya ribet, dia senggang. Dan begitu pula sebaliknya.

Itu sebabnya mengapa pada akhirnya saya sering berada dalam situasi seperti ini: menjelajahi pojok-pojok dunia sendirian. Ya! Saya memang lebih memilih jalan-jalan sendirian daripada harus berkompromi dengan teman blusukan yang punya gaya traveling yang sangat bertolak belakang dengan gaya traveling saya. Dan pengalaman blusukan sendirian ini pertama kali saya alami tahun 2012.

Berbicara tentang hal-hal menyenangkan dari blusukan sendirian atau bahasa kerennya: menjadi solo traveler, terus terang banyak. Kebebasan memilih adalah hal menyenangkan nomor satu jika kamu traveling sendirian. Kompromi hanya dilakukan pada diri sendiri. Misalnya pada stamina tubuh. Selain itu, seperti yang banyak diungkapkan oleh para travel blogger lainnya, dengan menjadi seorang solo traveler, kita diberi kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri, peka, dan tangguh! Karena, tentu saja, kita harus menghadapi segala tantangan yang mungkin datang pada saat traveling sendirian saja. Tak ada teman yang bisa diajak diskusi (kecuali kamu menemukan teman baru – sesama solo traveler). Contoh nyata adalah di Krakow kemarin. Di tengah-tengah keterbatasan orang lokal dalam hal berbahasa Inggris ditambah pula dengan saya yang fakir wifi absolut, saya harus tangguh mencari keberadaan halte tempat pemberhentian tram no 3! Tapi, harus diakui, hal-hal seperti itu meski kadang membuat saya merasa ‘hidup sendirian’ namun justru membuat perjalanan saya jadi lebih ‘kaya’.

Meski asyik, namun seringkali orang bertanya kepada saya, “Terus bagaimana jika kamu merasa sepi dan sendiri? Terlebih juga, bisa dipastikan, tak ada foto diri dengan pose oke selain foto selfie! Kan nggak ada yang motoin.” Ah! Itulah sebabnya mengapa saya selalu memilih tinggal di hostel rame-rame dengan traveler lain atau air bnb dengan pilihan private room. Memang lebih hemat tetapi setidaknya ada yang bisa diajak ngobrol atau sekedar ngeteh dan ngopi bareng diwaktu senggang kita. Waktu trip ke Maroko kemarin, saya dan teman-teman di hostel malah sering jalan bareng dan main kartu bareng hingga larut. Pun ketika di Budapest kemarin, meski cuma bertemu semalam saja, tapi saya dan teman sekamar di hostel sempat ngobrol bareng sambil memasak mi instan di dapur hostel.

Perkara selfie? Saya sih biasanya cukup nyolek traveler lain terus minta tolong difotoin. Gampang, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *