September 27, 2016 jejakkakirani 0Comment

Berdiri di atas Chain Bridge, saya mencubiti tangan. Rasanya masih tak percaya saya, pada akhirnya, bisa berada di tempat ino. Tempat yang selama ini, entah sudah berapa tahun, hanya bisa berada di list teratas dalam bucket list. Budapest! Siapa nyana, di musim panas ini saya bertemu dengannya, membauinya, menghirup udara yang melingkupinya.

img_9244

Budapest, kota keenam yang saya singgahi di rangkaian eurotrip kemarin memang telah berhasil mencuri hati. Setiap sudut kotanya indah. Bangunan-bangunan lama bergaya baroque rococo berpadu dengan bangunan-bangunan ‘sederhana’ yang diproduksi pada saat Budapest berada di bawah kekuasan komunis membuat Budapest terlihat ‘kaya’. Yang membuat saya semakin tertarik dengan kota ini adalah kemampuannya untuk ‘berkisah’ mengenai masa lampau. Budapest, yang konon setelah perang dunia kedua hancur berantakan ternyata tak pernah membiarkan dirinya terpuruk terlalu lama. Terlebih setelah terlepas dari rejim komunis, kota ini bagaikan seorang gadis yang tengah mekar-mekarnya; menarik untuk dilihat sekaligus bikin geregetan sehingga banyak orang datang mengunjunginya.

Budapest di musim panas riuh! Di salah satu sudut, sekumpulan orang duduk-duduk di pinggir kolam sambil merendam kakinya ke dalam kolam tersebut. Di sudut yang lain, ada turis-turis yang sedang menikmati gelato atau sekedar ngopi sekaligus berjemur, membiarkan sinar matahari menyelusup ke setiap inci tulang mereka. Menyebrangi jembatan, ternyata bertambah riuh. Ribuan turis memadati Castle Hill: berselfie di bekas istana Sang Raja, menelusuri jalan-jalan yang tak terlalu sempit namun eksotik di distrik tersebut, atau menyelusup ke dalam bekas rumah sakit yang terletak di sela-sela batu-batu masif.

_dsc1549 _dsc1661 _dsc1664 img_9324

img_9328Sementara di bibir Sungai Danube, orang-orang sengaja mendatangi instalasi deretan sepatu untuk sekedar mengenang orang-orang Yahudi yang diceburkan ke sungai sekaligus belajar mengenai sisi lain peristiwa holocaust. Di bagian kota yang dulunya bernama ‘Pest’ ini, suasananya berbeda. Deretan toko dan kafe membuat suasana kota di seberang sungai ini menjadi lebih hidup jika tak ingin dikatakan sebagai lebih ramai atau lebih riuh. Favorit saya adalah sisi jalan yang dimana ujung jalan tersebut ‘diakhiri’ oleh sebuah banguna gereja St. Stephen’s Basilica.

img_9345

Di sisi bagian ini pula saya banyak belajar mengenai sejarah Budapest, baik di bawah rejim komunis maupun ketika Yahudi masih berjaya di tempat ini.

Lalu, sambil menikmati pistachio gelato di tengah-tengah dua puluh delapan derajat celcius, saya yang tengah berdiri di atas jembatan legendaris yang menghubungkan Buda dan Pest, meniupkan sejumput harapan agar suatu saat bisa kembali ke sini.

Saya, jatuh cinta pada tempat ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *