December 13, 2016 jejakkakirani 0Comment

 

 

Dari atas jembatan, kampung di bantaran Sungai Brantas terlihat warna-warni. Banyak orang datang sekedar untuk selfie atau memang ingin tahu. Terima kasih pada beragam sosial media yang hadir hari ini yang berhasil menggerakan orang-orang untuk berkunjung ke tempat-tempat yang sedang ngetren, termasuk Kampung Jodipan, demi (seringnya) eksistensi semata.

Kampung Jodipan di awal tahun 2000, tahun dimana saya masih bermukim di kota Malang, masih berupa kampung yang terlihat kumuh dan tak banyak (atau mungkin tak ada) pelancong yang berkunjung ke sana. Menurut narasumber, kampung ini kebanyakan dihuni oleh kalangan menengah kebawah yang sebagian besar bekerja di pasar. Tentunya bukan sebagai pemilik kios, tapi lebih sebagai karyawan toko dan para pekerja kasar. Etnis Madura yang tinggal di kawasan ini juga lumayan banyak, membaur dengan etnis Jawanya.

Menuruni tangga asuk kawasan ini, beberapa ‘petugas’ memberi salam sambil menyodorkan tiket masuk berbentuk gambar tempel (begitu saya menyebut stiker ketika masih kecil dulu).

“Dua ribu saja mbak…mas… mau berapa tiket?”

Senyum semakin merekah di bibir merah ibu penjual tiket ketika saya mengulurkan dua lembar uang dua ribuan. Dengan sigap ibu tersebut menyorongkan dua lembar tiket sambil diikuti kalimat berikut, “Biaya tiket ini untuk perawatan pengecetan ulang. Itu sudah tertulis juga di tiketnya.”  Saya tersenyum sambil sekilas membaca tulisan yang tercetak di tiket tersebut. Di situ disebutkan bahwa iuran dua ribuan ini selain untuk pengecetan ulang juga untuk perawatan pendukung aktivitas pariwisata dan lain-lain. Ah, kira-kira apa saja yang termasuk ‘dan lain-lain’ itu?

Turun ke bawah, saya yang saat itu berkunjung bersama suami yang mantan Jodipaners (masa kecil suami saya hingga kelas empat atau lima SD dihabiskan di tempat ini) menemukan hal-hal yang mengejutkan. Warna-warni dan dilengkapi dengan instalasi payung-payung yang agaknya sedang ngehits saat ini. Rumah-rumah penduduk pun selain warna-warni juga digambari macam-macam. Mungkin maksudnya mural. Beberapa penduduk menggelar dagangannya di depan pintu rumah mereka. Makanan kecil, minuman ringan, pulsa, bahkan jersey dan pernak-pernik AREMA. Pokoknya riuh! Sementara para pengunjung sibuk mencari spot-spot cantik yang instagramable dan sibuk berselfie. Beberapa menenteng kamera DSLR nya, memotret sana-sini, dan sesekali…mungkin…curi-curi mengcandid mba-mba pengunjung yang unyu-unyu. Ah…..macam saya saja kalau lagi jalan terus ketemu mamang-mamang ganteng.

Menyelusup masuk ke lorong-lorong kampung, saya dihadapkan pada kenyataan yang lain. Para penduduk yang cuek saja terhadap kedatangan para orang asing. Tetap memandikan anakanya di kamar mandi yang terletak di depan rumah. Menyuapi anaknya. Bersih-bersih rumah. Atau sekedar mengobrol dengan tetangga.

Lalu ingatan saya melompat ke beberapa tahun yang lalu ketika di suatu sore yang panas ngentak-ngentak saya dan seorang kawan berkunjung ke kampung Code. Sambutan anak-anak Code kala itu membuat hati menjadi hangat. Ribut minta difoto sekaligus ada yang begitu ingin tahu cara mengoperasikan kamera. Ketika teman saya sedang sibuk melayani celoteh anak-anak Code, saya menyelusup ke lorong-lorong kampung itu. Bertemu dengan ibu-ibu yang sedang ngerumpi, bahkan saya sempat ngobrol seru meski sejenak dengan mereka.

Saya, tidak mendapatkan kesan diterima dengan ‘hangat’ di Jodipan.

Suami yang mantan Jodipaners pun berujar: aneh! Mungkin ia merasa semakin berjarak dengan kampung halamannya dulu? Mungkin ia merasa Jodipan yang sekarang tidak sehangat yang dulu? Atau aura Jodipan yang sudah berubah dan tak dikenalinya lagi? Entah!

Sambil duduk di pinggir gang sambil menikmati minuman yang dibeli di sebuah warung, saya mengajak si penjual minuman bercakap-cakap. Basa-basi singkat, sih! Bertanya sudah berapa lama beliau membuka usaha warung di tempat ini. Percakapan kemudian berlanjut merembet ke masalah Jodipan yang warna-warni. Lalu, meluncurlah kisah itu.

“Jadi mahasiswa UMM (Universitas Muhammadyah Malang) yang punya inisiatif ngecet itu. Pake sponsor dari Decofresh. Tujuannya ya katanya biar kampungnya jadi bagus.”  Ujarnya lagi, “Terus mahasiswa itu datang ke masyarakat sini. Bilang kalau mau ngecat. Masyarakat setuju, terus mereka ke pemerintah. Begitu dapat ijin, ya terus mulai dicat. Yang boleh ngecat ya siapa saja. Penduduk Malang yang lainnya juga boleh. Itu kemarin dari UB (Universitas Brawijaya) juga ngecet warung saya dan nulis-nulis (di dinding) itu.”

“Wah, seru ya Bu…. Jadi cantik kampungnya. Terus jadi banyak yang dateng selfie-selfie. Ditambah ada tiket masuk. Masyarakat kampung jadi kecipratan rejeki juga, kan!”

Ibu itu tersenyum. “Wah, Mbak! Uang tiket itu ya buat perawatan cat dan tambah fasilitas wisata itu. Mau buat bikin jembatan gantung juga buat menghubungkan kampung yang di sini dan di seberang sungai. Katanya sih begitu. Tapi ya persisnya saya nggak tahu. Wong saya nggak ikut-ikut ngurusin itu. Saya cuma jualan saja.”

“Loh, kenapa nggak ikutan, Bu?”

“Nggak…saya cuma jualan saja pokoknya. Lebih enak.”

“Tapi Ibu seneng nggak, kampungnya jadi didatangi banyak orang? Jadi cantik kayak gini?”

:Si ibu tak langsung menjawab. Lalu, “Ya seneng…ya gimana ya… pokoknya saya jualan saja. Jualan saya laku ya alhamdulillah.”

Percakapan terhenti karena sang ibu sibuk menyapa rombongan tetangganya yang hendak takziah di suatu tempat. Lalu ceritanya bergeser tentang masa lalu. Tentang air sungai yang lebih deras dan tidak sekering sekarang. Tentang orang-orang yang bunuh diri dan jatuh dari jembatan kereta api. Bahkan, ketika suami saya pada akhirnya ikut gabung, mereka berdua gayeng berbincang tentang Jodipan masa lampau.

Ah, mereka sedang bernostalgia!

Sebelum beranjak saya, sekali lagi, memancing tentang tanggapan sang ibu terhadap perkembangan kampungnya sebagai tempat wisata. Tapi, sama seperti tadi, jawabannya cuma seputar ‘yang penting bisa jualan dan laku’.

Menuju pintu keluar, saya kembali menelusuri gang-gang sempit, menaik turuni tangga. Tetap tak terlihat interaksi antara wisatawan dan ‘tuan rumah’. Seakan mereka hidup di dua dunia yang berbeda, disekat oleh dinding tebal. Satu-satunya interaksi yang terjadi mungkin ketika mereka bertransaksi dagang. Tak lebih!

Warna-warninya ternyata tak membuat wajah para penghuninya menjadi lebih berseri. Bahkan mungkin, mereka, seperti suami saya, juga merasa asing dengan kampung halamannya sendiri.

 

 

Yogyakarta, Desember 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *