December 18, 2016 jejakkakirani 0Comment

img_2571

Saya selalu mencari masjid di setiap trip. Selain untuk beribadah, saya selalu penasaran dengan sensasi sembahyang di masjid di negri orang. Bertemu dengan sesama muslim berbeda ras itu luar biasa!
Ketika saya melawat di Saigon, mulanya saya ragu akan menemukan masjid di kota ini. Sebagai negara komunis yang sekarang menjadi semakin kapitalis, saya sedikit pesimis bisa bertemu masjid. Iya, gereja memang ada di sini. Wajar, karena selama kurun waktu tertentu negara ini ada di bawah kendali Perancis. Namun masjid?
Lewat sebuah aplikasi di ponsel yang katanya pntar itu saya akhirnya memperoleh informasi bahwa ada sebuah masjid di kota ini yang terletak di pusat kotaa, kira-kiratidak terlalu jauh dari Opera House. Dari area backpacker, masjid ini bisa dicapai dengan berjalan kaki. Menariknya lagi, di seputaran masjid ada beberapa resto halal (meski harga sedikit tak bersahabat bagi kaum backpacker dan rasanya juga kurang nendang).
Siang itui, setelah menghabiskan segelas es kopi susu dan lumpia di Saigon Halal, saya segera melangkahkan kali ke masjid yang terletak di seberangnya.
Masjidnya sendiri tak terlalu luas. Tapi arsitektur bangunannya cukup cantik. Dan yang jelas saya jadi berasa adem ketika masuk ke dalamnya setelah beberapa saat sebelumnya merasakan matahari yang begitu terik.  Dan  siang itu, suasana masjid terasa lengang. Hal pertama yang saya lakukan adalah ‘sweeping’ tempat ini. Bak besar bagai tempat wudlu pria, deretan ember ber keran dengan dingklik kecil di tempat wudlu wanita, para musafir yang sedang beristirahat, dan….saya melihat tiga orang wanita paruh baya berwajah Vietnam tampak sedang asyik mengobrol. Sesekali mereka membetulkan kerudung.
img_2531
Ketika saya sedang menselinjorkan kaki seorang wanita melayu datang menghampiri. Mengajak berbincang dalam bahasa inggris. Sapanya, “Are you Vietnamesse moslem? Saya sungguh tak mengira wanita Vietnam muda macam kamu menjadikan Islam sebagai pegangan hidup. Beberapa kali saya ke sini dan hanya menemukan ibu-ibu Vietnam paruh baya itu yang rajin sembahyang di sini.”
Belum sempat saya menjawab, seorang gadis melayu lain berkata,”Saya suka melihat wanita Vietnam. Mereka cantik-cantik. Seperti kamu!”. Hehe…oke!!! Bagian saya dibilang cantik memang bikin saya geer tapi…..should I say If I’m Indonesian??? Jangan-jangan kalau saya ngaku orang Indonesia mereka ga bilang cantik lagi…
Dengan malu-malu akhirnya saya berkata kepada mereka (dalam bahasa Indonesia tentunya!) bahwa saya bukan orang Vietnam melainkan orang Indonesia. Dan tepat seperti dugaan saya, mereka terkejut dan sedikut tak percaya. “Kamu terlihat oriental!” kata mereka.
Huufft….here we go again!!! Ini pasti gara-gara mata sipit saya. Dan saya cuma tersenyum sambil menegaskan sekali lagi kalau saya orang Indonesia.
Untungnya, adzan segera berkumandang. Saya terselamatkan dari momen canggung itu. Dan saya pun segera mengambil air wudlu….
img_2540 wudlu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *