January 12, 2017 jejakkakirani 0Comment

_DSC5288

Teruntuk saudara-saudaraku yang dulu harus meregang nyawa tanpa tahu apa sebabnya.

Kata mereka, kalian semua terkubur di bawah tanah berwarna coklat itu. Di suatu tempat yang konon dulunya memang ada untuk menguburkan mereka, jasad-jasad saudara beretnis Cina yang menghirup udara Phnom Penh.¬†Mestinya kalian merindukan langit biru tanpa desingan peluru dan kisah-kisah¬†sedih mereka yang tercerabut jiwanya. Perang tak kunjung usai yang terjadi di negaramu pasti membuatmu jenuh. Siapa nyana, nyawamu justru tak berharga dimata saudaramu sendiri. Seperti yang kisah dari piranti audio yang selalu kudengarkan selama aku berada di ‘rumah’mu. Bagaimana mungkin dia, yang setanah air dengamu, tega berbuat keji seperti itu.

Di bawah rindangnya pohon aku duduk. Pada sebuah bangku taman, aku berusaha mengambil jeda. Lelah rasanya terus-terusan mendengar kisah kelam. Tumpukan tulang-belulang dan baju-baju kumal di kotak kaca itu, sejujurnya begitu mengiris hati. Kudapati juga baju-baju berukuran kecil, mungkin untuk anak berusia satu atau dua tahun. Dan aku menggigil. Mereka seusiaku! Andai mereka masih hidup, mungkin saat ini mereka tengah asyik bercanda bersama anak-anak tersayangnya….

Lalu monumen itu. Monumen yang dirancang sedemikian rupa nyatanya tak juga berhasil menyembunyikan perih yang pernah melanda negri ini. Sedih rasanya ketika melihat deretan tengkorak putih yang ditata sedemikian rupa. Mungkin hal ini pula yang pada akhirnya membuatku memilih untuk tidak banyak mengabadikan apa-apa yang dikisahkan tempat ini.

Satu setengah jam kemudian, di dalam tuk-tuk yang berlari kencang menembus jalanan yang berdebu, aku masih mengingatmu saudara-saudaraku. Membayangkan pilumu. Ketakutanmu. Sedihmu. Keputusasaanmu….

Choeung Ek kini menjadi rumahmu….

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *