January 12, 2017 jejakkakirani 0Comment

blogger-image-344323081

Perjalanan dua hari ke Lasem kali ini diisi dengan mengunjungi beberapa situs marjinal yang terletak di perbukitan di wilayah Bonang. Bersama Pop – founder Rembang Heritage Society – kami mengunjungi salah situs yang bernama situs Adon Ayam.

Konon situs tersebut pada jaman baheula, digunakan sebagai tempat adu ayam. Benarkah begitu??? Itu menurut legendanya. Tapi, saya nggak akan membahas tentang ini deh! Saya akan membahas tentang hal lain. Apa itu???

Oke…jadi, pagi itu saya dan Pop memutuskan untuk mampir sejenak ke situs Adon Ayam itu sekembalinya dari menengok dolmen yang berada tak begitu jauh dari situ. Situs ini berbentuk bukit, meski nggak setinggi bukitnya Candi Abang di Yogya. Di sekitar bukit berserakan bata-bata lama, ada yang masih utuh tapi kebanyakan sudah berupa pecahan-pecahan bata.

Cuek saja saya melangkah mendekati buki itu. Ada sedikit kemiripan juga dengan Candi Abang. Permukaam bukitnya berkelok-kelok. Tidak rata. Hmmm…kemungkinan sih mengikuti bentuk ‘sesuatu’ yang terkubur di situ.

Sampai di atas bukit saya mulai menyusuri sisi yang lain. Sambil memotret-motret tentu saja. Sama halnya dengan Pop.

Pagi itu cuaca amatlah cerah. Langit benar-benar berwarna biru. Panas. Dan tak berangin. Namun tiba-tiba, angin bertiup dengan riuhnya. Membuat saya harus berpegangan pada pohon-pohon yang ada dan harus menjaga agar debu tidak masuk ke dalam mata. Sementara itu anginnya tak kunjung reda. Diikuti dengan perasaan senyap dan mencekam. Wah, ada apa ini?

Sempat terlintas pikiran aneh-aneh. Jangan-jangan ada kekuatan ‘spiritual’ di tempat itu yang nggak menyukai kehadiran kami. Atau mungkin angin ini merupakan permintaan tolong dari yang terkubur untuk ditemukan. Ah, imajinasi saya malah membuat tambah panik. Sementara Pop terus berjalan menuruni bukit. Seolah tak terganggu dengan angin itu.

Saya mencoba berpikir logis. Bahwa mungkin karena tempat ini adalah sebuah dayaran tinggi, kadang angin suka datang begitu saja. Tapi, tetap saja saya merasa tidak nyaman. Betulang kali saya memanggil Pop. Memastikan bahwa ia berada tak jauh dari saya. Bergegas saya menuruni bukit. Mengambil jalur shortcut hingga sampai ke jalur pulang.Begitu sampai di bawah angin yang heboh tadi mendadak berhenti. Sekilas saya memandang ke atas bukit tadi. Pohon-pohonnya tampak tenang,  diam tak bergerak, seperti angin tak pernah bertiup sebelumnya.

Saya cuma bisa bergidik dan bergegas berjalan meninggalkan tempat itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *