January 21, 2017 jejakkakirani 0Comment

Suara adzan yang bersahut-sahutan memenuhi udara Marakesh, menembus sela-sela langit yang berwarna keemasan. Jemaa El-Fnaa, tempat di mana ratusan orang sedang melewatkan senja sekejap menjadi lebih riuh. Orang bergegas menuju masjid yang terletak di empat sudut ruang terbuka ini. Mereka yang sudah duduk-duduk di emperan masjid pun bergegas berdiri, melepas alas kaki dan menentengnya. Pintu-pintu masjid serentak terbuka. Dengan tertib mereka masuk ke dalam. Pria dan wanita melewati pintu yang sama.

IMG_2772

Sedikit canggung, setelah melepas sepatu boot, saya turut masuk. Bingung mencari rak untuk menaruh sepatu, seorang wanita lanjut usia mencolek bahu. Ia memberikan kantong plastik sambil menunjuk sepatu saya. Ragu saya memasukkan sepatu ke dalam kantong plastik. Ia tersenyum lalu masih dengan bahasa isyarat wanita itu menyuruh saya untuk memasukkan kantong plastik berisi sepatu tersebut ke dalam tas.

Kebingungan kedua terjadi ketika saya hendak mengambil air wudlu. Tempat wudlu yang tersedia cuma satu dan penuh oleh para pria. Tak terlihat ada tempat wudlu untuk wanita. Tak terlihat pula para wanita yang mengantri wudlu. Di tempat sholat untuk para wanita, akhirnya saya bertanya. Seorang wanita lalu mengulurkan bola tanah sekukuran kepalan tangan orang dewasa. Dengan bahasa isyarat dia memberitahu agar saya bertayamum.

Selepas sholat, saya sempatkan untuk duduk-duduk sebentar di emperan masjid. Ada sekitar seperempat jam lebih saya duduk-duduk di situ. Ketika sedang duduk-duduk, seorang wanita dengan bahasa Inggris patah-patah meminta saya untuk segera pergi. Belum sempat saya meminta penjelasan, seorang petugas menutup kembali pintu masjid.

Di Marakesh, masjid pun ada jam buka dan jam tutupnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *