May 21, 2017 jejakkakirani 0Comment

 

Jam setengah sebelas siang dan jalanan di Red District Amsterdam sudah berjejal. Turis lalu lalang, bau keringat apek dan sinar matahari musim panas yang ditimpa bau yang konon akan membawamu ke langit ketujuh: bau ganja! Mulanya saya tak berniat untuk berada di daerah ini, namun takdir berkata lain. Magikarp membawa saya ke sini (catatan: waktu itu saya lagi getol-getolnya menangkap pokemon). Hingga saya tiba tepat di depan bangunan ini. Tertulis di fasadenya: Red Light Secret, museum of prostitution. Oh, museum itu! Ada rasa tertarik sekaligus penasaran yang menghantui namun saya tetap tak beranjak. Terdiam di luar, mungkin hingga nyaris setengah jam. Ini Amsterdam! Salah satu kota yang paling banyak dikunjungi turis. Seperti halnya London, maka tourist trap pastinya juga banyak. Perjalanan keliling Eropa baru saja dimulai, jadi saya mesti cermat menghitung Euro yang harus keluar dari dompet. Lalu, museum mungil dengan tema kontroversial ini, apakah ia juga tourist trap? Yang akan membuatmu menyesal setelah masuk ke dalamnya. Oh, cuma begini saja tapi harga tiketnya bisa digunakan untuk makan lontong cap go meh di Si Des? Setelah beneran menghitung kancing, akhirnya saya memutuskan untuk masuk. Perempuan penjaga tiket menyapa dengan ramah. Di depan saya, ada dua orang turis perempuan yang sedang berfoto dengan poster-poster yang dipasang di dinding. Beberapa saat kemudian saya telah berada di dalam ruangan yang bernuansa merah.

Kalau boleh saya berujar, museum ini sederhana namun luar biasa. Dengan jelas dipaparkan bagaimana profesi penjaja cinta di Amsterdam ini sebenarnya. Apakah hanya ‘dipajang’ di etalase, mendapat klien, bercinta, lalu menerima upahnya? Ah, ternyata tidak. Ini profesi serius. Meski kelihatannya remeh dan (sebagian orang menganggap) hina namun, di Belanda, atau khususnya di Red District Amsterdam, profesi ini seserius profesi dokter, arsitek, penulis, atau profesi-profesi (yang dianggap) lumrah lainnya.

How would you feel, if you were judged by so many people day in day out? People stare at you without respect. On top of that, it’s a dangerous profession.

Kata-kata yang ditempel di dinding berwarna merah semakin menyadarkan saya bahwa profesi ini sungguhlah rumit. Perihal menjadi penjaja cinta yang ‘sehat’ agaknya menjadi prioritas. Selain itu, karena profesi ini serius dan dianggap menjanjikan, maka tips bagaimana menjadi seorang penjaja cinta yang sukses pun perlu dipelajari.

 

Selebihnya, peralatan-peralatan yang digunakan selama mereka bekerja juga dipamerkan di sini, dikumpulkan di dalam dua kotak kaca setinggi manusia. Di lantai teratas, sebuah kursi diletakkan menghadap ke kaca jendela. Silakan duduk di situ, lalu nikmati sensasi sesaat ‘dipajang’ di etalase. Saya mencobanya. Deg-degan rasanya karena terekspos jelas dari jalanan. Di dekat pintu keluar, dipamerkan pula barang-barang klien yang tertinggal. Dompet, kacamata, jam tangan, hingga gigi palsu ada di sana. Saya membayangkan, pasti ada alasan khusus mengapa mereka malas mengambil kembali barangnya yang tertinggal di sana. Atau mungkin, karena  sudah hilang kesadaran akibat alkohol dan ganja, bisa jadi ia juga lupa di tempat mana barang-barangnya itu tertinggal.

Kembali berbaur dengan sinar matahari Amsterdam, saya salut dengan ide museum ini. Prostitusi memang masalah klasik. Pekerjanya dihina sekaligus dicari. Dan, di dalam bangunan 3 lantai yang tak terlalu luas itu, mereka yang dihina mencoba bersuara.

Selamat datang di Amsterdam!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *