August 8, 2017 jejakkakirani 0Comment

Suhu 35 derajat celcius membuat saya emosi.  Terbiasa hidup di suhu belasan derajat hingga pernah suatu kali, minus tujuh, membuat saya merutuki Roma tanpa henti. Roma di musim panas sungguh menyebalkan. Di dalam taksi yang membawa saya dari bandara  Ciampino menuju ke penginapan, saya sebenarnya patah hati. Roma tak seperti yang saya bayangkan. Dinding-dinding kusam penuh corat-coret. Dan, tambahkan saja dengan predikatnya sebagai kota dimana copet tumbuh subur dan makmur. Perkara copet Roma, suatu saat nanti akan saya ceritakan. Singkat cerita, kesan pertama saya terhadap Roma:  nggak banget!

Ketika esoknya dan esoknya lagi saya menelurusi sudut-sudut Roma, penilaian saya terhadap Roma tak berubah. Penuh sesak! Ketika saya mengunjungi Trevi Fountain misalnya, saya cuma memotret ala kadarnya lantas lebih memilih duduk di emperan Chiasa di Santa Maria in Trivio sambil menikmati gelato rasa vanila yang super enak. Pun ketika berkunjung ke Vatikan, panas matahari yang menyengat dan lautan manusia membuat saya urung untuk menjelajahi Vatikan lebih lanjut. Ah, benar kata salah seorang teman. Roma itu overrated!

Sehari sebelum saya meninggalkan Roma, sendirian saya berkunjung ke Colosseum. Colosseum cuma sepuluh menit jalan kaki dari penginapan. Jadi, sekitar jam sembilan pagi saya sudah berada di dalam antrian Colosseum. Mungkin, karena saya adalah pecinta bangunan lama dan reruntuhan bangunan lama (ruins) maka ke Colosseum itu wajib hukumnya. Setengah jam kurang lebih saya mengantri. Setelah melalui security check dan membeli tiket (ternyata jika kita membeli tiket Colosseum, kita boleh masuk juga secara gratis ke kompleks Roman Forum) serta menaiki sejumlah anak tangga batu, sampailah saya di dalam

Coloseum. Sungguh! Baru kali ini Roma terlihat sebagai ‘sesuatu’.

 

Bangunan ini luar biasa megah. Lantai marmernya mengingatkan saya pada lantai marmer di rumah-rumah tua bergaya kolonial di Indonesia. Konon, bangunan ini terbuat dari beton dan pasir. Saya lalu membayangkan ketika bangunan ini masih utuh dan masih digunakan sebagai tempat pertunjukkan gladiator. Betapa riuhnya! Betapa bergengsinya! Di game jadul ‘Caesar 3’ saja, butuh 500 denarii untuk membangun Colosseum, lumayan mahal bila dibandingkan dengan fasilitas-fasilitas hiburan lainnya (ya, saya memang die hard fans game Caesar 3!). Satu setengah jam saya menikmati isi Colosseum ini. Naik turun tangga, berpanas-panas, mengelus-elus dan membaui batu-batunya. Ah, baru kali ini saya begitu bahagia berada di Roma!

Dalam perjalanan pulang, sambil menyeruput Mango Lassi saya jadi melihat Roma dari sudut pandang yang berbeda. Ya! Roma ternyata cukup cantik. Selama Colosseum tetap berdiri.

Addio!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *