August 10, 2017 jejakkakirani 0Comment

Saya ini impulsive traveller. Sudah tak terhitung berapa kali saya membeli tiket, baik tiket pesawat atau kereta bahkan bis, hanya karena saat itu sedang ada promo tiket murah. Destinasinya pun terkadang dipas-pasin dengan destinasi tiket promo itu. Ya habis gimana lagi! Jalan-jalan itu kebutuhan primer bagi saya, setara dengan makan, sandang, papan, internet/wifi dan gawai pintar.

Nah, saking impulsifnya saya ini suka ngasal. Klik-klik lalu bayar dan….alamak…..saya biasanya lantas syok ketika melihat jam keberangkatan. Yah, sudah bukan rahasia lagi sih. Tiket promo itu terkadang hadir di jam-jam keberangkatan yang ajaib. Jam sebelas malam. Atau sekitar subuh. Kalau sudah begini, saya harus menyiapkan mental untuk ngemper di bandara. Karena terkadang, seperti di Stansted Airport misalnya, transportasi publik menuju ke kota baru ada setelah jam enam pagi.

Perjalanan ngemper saya sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2012 lalu. Nggak benar-benar ngemper sebetulnya. Tapi, bangku kayu (sekarang sudah tidak ada lagi) di lobby terminal dua Bandara Soetta menjadi saksi. Jadwal terbang saya jam dua an. Tapi sejak jam empat pagi saya sudah duduk manis di bandara. Yah, lagi-lagi karena masalah teknis dan kebaikan hati (eh!) dan yang terpenting: ngirit ongkos! Waktu itu saya berdua dengan teman, lalu janjian. Aku tidur dulu dan kamu jagain tas, nanti setelah aku bangun kamu boleh tidur dan aku yang jagain tas. Ngemper yang kedua tahun 2016 di Stansted. Jadwal terbang ke Maroko jam 6 pagi. Jadi paling telat jam 4 saya sudah harus di bandara, bukan begitu! Jadi saya memutuskan naik kereta  malam dari Newcastle yang menurut jadwal sampai di Stansted jam 2. Tapi karena sesuatu hal, jam 12 saya sudah duduk manis di Stansted. Terkantuk-kantuk dan bangku di lobbynya sudah penuh. Akhirnya, saya memutuskan untuk ngglesot di lantai berbantal ransel dan tidur. Selanjutnya, masih ada peristiwa ngemper-ngemper lainnya. Nah, yang rada konyol adalah ketika saya di Belanda kemarin. Tiba di Schipol jam 11 malam. Sebenarnya ada kereta ke Leiden di jam itu. Tapi saya nggak enak hati saja harus menggedor rumah teman malam-malam. Ya sudahlah, saya memutuskan untuk ‘nginep’ dulu di bandara baru keesokan paginya jalan ke Leiden. Tapi, ah…dari hasil googling ternyata yang bisa ngemper cantik di bandara adalah mereka yang mempunyai tiket penerbangan keesokan paginya. Akhirnya, ya sudah lah. Saya menemukan bangku di Schipol plaza dan tidur di sana. Pagi-pagi, sekitar jam enam, masih setengah sadar, terdengar ada seseorang yang berbicara dengan saya. Susah payah saya berusaha untuk melek dan…..hampir saja saya alay ketika melihat ada sosok mas-mas yang…lumayanlah untuk dilihatin….dengan gestur tubuh yang sedikit kaku berusaha untuk membangunkan saya. Jangan tidur lagi. Ayo bangun! Ini sudah banyak orang yang datang ke tempat ini.

Ah, padahal mimpi indah saya belum selesai….

Kejadian dibangunkan bukan saja terjadi Schipol. Di Stansted saya juga mengalaminya.

Jadi, dengan segala pengalaman itu, apakah lantas saya jadi lebih berhati-hati ketika membeli tiket? Tentu tidak! Setelah ini, episode ngemper saya akan segera berlanjut. Lagipula terkadang, nginep di bandara itu merupakan salah satu cara untuk memangkas biaya menginap di penginapan. Dan situs ini lumayan membantu sih dalam pencarian spot-spot keren untuk tidur di bandara.

Cuma saja bersiap-siaplah untuk menderita pegal-pegal di badan setelah itu, ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *