April 19, 2018 jejakkakirani 0Comment

Ini kali pertama saya berada di sini! Di sebuah pelataran candi di salah satu sudut Tumpang – Malang, berteman semilir angin dan lenguhan sapi dari lahan sebelah. Tak sengaja saya berada di sini; seorang teman di komunitas membisiki saya agar mengunjungi candi ini jika saya sedang melawat ke Malang. Ini adalah salah satu candi yang penting, begitu katanya.

Maka siang itu, ketika usai melawat candi Jago saya memutuskan untuk mengunjungi tempat ini, Candi Kidal namanya.

Kedatangan saya disambut dengan hawa panas Malang yang memaksa saya untuk duduk sejenak di bawah sebuah pohon rindang. Sekedar melepas lelah, namun tentu saja sambil melakukan screening cepat pada candi ini. Layaknya candi-candi lain di Jawa Timur, Candi Kidal mengikuti morfologi khas candi-candi di wilayah ini.  Langsing dengan atap berundak-undak. 

“Cerita tentang candi ini sungguh indah dan mengharukan,” seorang satpam mendekati saya.

“Ha? Cerita?” tanya saya tergagap. Sedikit menyesal saya tidak sempat googling terlebih dahulu mengenai candi ini.

“Tersebutlah kisah di awal mula peradaban. Bhagawan Kasyapa mempunyai istri berjumlah delapan. Anak keturunannya lahir sebagai dewa, manusia, raksasa dan hewan. Dua Istri Sang Bhagawan, Dewi Winata dan Dewi Kadru selalu berada dalam persaingan. Dewi Kadru mempunyai anak tiga ekor ular, sedangkan Dewi Winata mempunyai dua orang anak, salah satunnya   bersosok burung. Anak tersebut dinamai Garudeya.

Syahdan, Dewi Kadru mengajak bertaruh Dewi Winata pada warna ekor kuda putih Uccaihswara. Kelicikan Dewi Kadru telah membuat Dewi Winata kalah dalam pertaruhan sehingga mengakibatkan Dewi Winata dijadikan budak oleh Dewi Kadru..

Beranjak dewasa, Garudeya akhirnya mengetahui mengenai kisah perbudakan itu. Singkat cerita, Garudeya berusaha membebaskan ibunya meski harus melawan para dewa demi air suci Amerta.”

Usai berkisah, pak Satpam itu tersenyum. “Lihat saja di papan informasi di belakang sampeyan.”

Saya tak juga beranjak, malah lanjut bertanya, “Candi ini dulu difungsikan sebagai apa, Pak?”

“Candi ini dibangun untuk mendarmakan Anusapati agar mendapatkan kemuliaan sebagai Syiwa. Dan sebenarnya terdapat hubungan erat antara Anusapati dengan relief Garuda yang terpahat di badan candi ini. Monggo mbak, saya kembali bertugas dulu. Silakan menikmati candi ini.

Sepeninggal bapak satpam tadi, saya bergegas mendekati candi. Berjalan ke sisi kanan candi dan di sana saya menemukan tiga buah relief Garuda yang sudah tak utuh lagi.  Saya berusaha membaca kisah Garuda melalui relief-relief tersebut dan tanpa terasa saya ikut larut dalam kisah heroik Garuda dalam rangka membebaskan Sang Ibu. Saya sampai tak menyadari beberapa traveler berdiri di sekitar saya, menikmati kisah ini. Hal yang masih menggelitik pikiran saya adalah relasi antara kisah Garuda dan Anusapati. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk googling dan mencari jawabannya lewat dunia maya. Ternyata, relief Garuda yang dipahat pada candi ini atas amanat dari Anusapati yang ingin merawat Ken Dedes – ibunya.

Siang semakin menjelang. Sebelum saya mengakhiri kunjungan ini, terngiang sebuah sloka yang termaktub dalam Pustaka Suci Manawa Dharma Sastra:

“abhi wadanacilasya, nityam wrddhopasewinah, catwari tasya madhante, ayurwidya yaco balam. ”

(Ia yang sudah biasa menghormati dan selalu taat kepada orang tua mendapatkan tambahan dalam empat hal yaitu umur panjang, pengetahuan, kemasyuran, dan kekuatan)

Bersamaan dengan langkah kaki yang meninggalkan tempat ini, justru ada  ikatan kuat yang terjadi antara candi ini dengan saya. Sentimental Candi Kidal agaknya berhasil menjerat saya masuk ke dalam pusarannya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *