May 15, 2018 jejakkakirani 0Comment

Saigon, 2012. Hanya tiga jam sebelum  berada di dalam bis yang akan membawaku menuju bandara,aku kena scam. Sebelum berangkat ke kota ini, mayoritas travel blog sudah mewanti-wanti jika Saigon, atau sekarang yang dikenal sebagai Ho Chi Minh city, adalah sebuah kota rawan scam. Waktu itu, aku sedang berada di sebuah taman tempat patung paman Ho berada. Seorang lelaki bertubuh sedikit gempal datang. Kulihat jalannya sedikit pincang. Di pundaknya kulihat tas besar menggantung, entah apa isinya.

Dengan bahasa Inggris yang lumayan, dia menyapaku. Seperti biasa, aku memang tak terlalu mudah berakrab-akrab dengan orang yang tak kukenal. Namun, lelaki ini pantang menyerah. Kisah perang Vietnam (atau perang Amerika, begitu para penduduk Vietnam menjulukinya) yang dituturkannya ternyata berhasil mencairkan suasana. Obrolan berlanjut hinga akhirnya ia bertanya padaku. Kamu dari mana? Kujawab singkat saja, dari Indonesia. Lantas ia membuka tasnya. Dikeluarkannya tiga buah buku dan disodorkannya buku-buku itu padaku. Dari judulnya, ketiga buku itu mempunyai topik yang sama: Perang Vietnam. Layaknya buku-buku di shopping Yogyakarta, buku-buku itu juga dibungkus dengan plastik bening rapat. “Ini,” katanya. “Tiga buah buku, harganya seratus ribu rupiah saja. Tapi dibayar dengan uang rupiah ya.” Aku terkejut mendengar permintaannya. Permintaan yang tak lazim menurutku. Tapi entah mengapa kuulurkan uang seratus ribu rupiah kepadanya dan kuambil ketiga buku itu. Kala itu, seratus ribu rupiah setara kira-kira seratus enam puluh hingga dua ratus ribu rupiah Dong. Setelah itu, lelaki tersebut bergegas pergi.

Di dalam bis menuju bandara, kubuka buku itu. Sial! Aku tertipu! Isinya ternyata kertas kosong!

Scam memang bisa terjadi di mana-mana. Di Marrakech, di Paris, bahkan di Indonesia. Siapa tak kenal dengan modus pedagang makanan dan minuman di Malioboro? Waktu aku masih belum menjadi penduduk Yogya, aku harus membayar 15 ribu untuk es durian yang hanya berisi durian 1 butir saja dan saat itu adalah tahun 1998. Jauh lebih mahal dari es durian warung Sakinah di Bandung.

Resiko seorang traveller memang. Orang lokal pasti akan segera tahu jika kita adalah bukan orang lokal. Meski kita sudah bersikap selokal mungkin, namun tetap saja ada hal-hal yang membuat kita terlihat beda. Menyikapi hal ini, intuisi menjadi hal yang penting untuk digugu, didengarkan dan dipercaya, agar kita terhindar dari scam.  Tentu saja, ngobrol dengan traveller lain (bagi yang menginap di hostel) atau mencari informasi di dunia maya juga sebaiknya dilakukan. Selain itu, khususnya bagi para female solo traveller, tampang jutek itu perlu! Jika sudah telanjur kena scam ? Bisa diikhlaskan atau lapor polisi (setelah sebelumnya ngobrol dulu dengan orang lokal: petugas hotel/hostel). Bete, siapa yang tidak? Tapi jangan sampai mood liburanmu berantakan!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *