March 3, 2019 jejakkakirani 0Comment

Buatku, negara di Eropa itu tidak ada yang sekeren Spanyol.

Spanyol, negara dimana waktu seakan berhenti. Cobalah sesekali kamu menyesatkan diri di lorong-lorong sempit kota-kota di negara ini. Menyapa dan menghirup aroma paella dan sangria, lalu berjingkat-jingkat kemayu bak penari flamenco. Spanyol, mulai dari Barcelona hingga Malaga, telah memikatku. Belum lagi senyum ramah dari para penghuninya membuatku merasa Spanyol bagaikan tanah air ketigaku.

Menariknya, setiap kota di Spanyol punya nuansa yang berbeda. Barcelona jelas bertolak belakang dengan Granada, misalnya. Madrid, yang merupakan ibukota negara tersebut, nyatanya tak segemerlap Barcelona. Sebagai pecinta kota besar sekaligus penikmat bangunan tua, Spanyol bagaikan satu paket lengkap; one stop shopping. Belum lagi ditambah dengan cafe bon-bon (kopi espresso yang diberi susu kental manis), deretan butik-butik yang menjual baju-baju linen dan pernak-pernik etnik, dan tentu saja espadrilles yang seringkali membuat lupa diri

Tapi, bukan itu yang membuatku jatuh cinta secara membabi-buta terhadap negara ini. Tiga setengah tahun hidup di negara yang selalu tergesa membuatku rindu akan ritme hidup lambat. Dan senangnya, negara ini memberikan itu. Siesta atau istirahat siang adalah salah satu cara orang-orang di sana untuk berhenti sejenak dari segala rutinitas. Sepanjang siesta, toko-toko dan restoran pada umumnya tutup. Bagiku, Spanyol itu ‘manusiawi’

Bagiku, Spanyol itu bagaikan sekotak coklat. Kamu tak akan pernah tahu apa yang akan kamu temui di sana…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *