March 13, 2019 jejakkakirani 0Comment

Pagi hari! Dari balik jendela di sebuah penginapan di suatu pedesaan di daerah Surrey, aku menatap takjub. Hari itu hari Natal, maka deretan toko-toko mungil di depan penginapan sudah pasti tutup. Sesekali terdengar suara orang bercakap-cakap, tetapi tetap saja keheningan sekaligus keelokan tempat ini membuat hatiku meleleh. Sepasang burung hinggap di ranting gundul. Langit biru. Sinar matahari malu-malu menerobos jendela kamar.

Hari kedua road trip kali ini akan diisi dengan berjalan-jalan di pusat kota Surrey sebelum sore nanti menuju ke London. Dalam perjalanan menuju London, kami merencanakan untuk mampir sebentar ke setting film natal romantis berjudul The Holiday. Sebagai fans garis keras Jude Lawberkunjung ke setting salah satu fimnya itu penting. Yah, belum juga berhasil bertemu dengannya tak apa lah! Setidaknya, membaui jejaknya sudah cukup bagi diriku.

Seusai menghabiskan siang di kota Surrey yang cantik-damai-lengang, bergegas kami – aku dan kedua temanku – melanjutkan perjalanan. Langit biru mulai berganti abu, dan tersisa dua-tiga jam hingga langit pekat sempurna. Musim dingin di bulan Desember memang musim yang ‘melelahkan’ bagi para pejalan tersebab siang yang pendek; hanya sekitar 7 atau 8 jam saja.

Rasanya baru sebentar kami berada di mobil, tepat di atas jembatan yang terletak sedikit di luar dari kota Surrey, kami berpapasan dengan mobil lain. Refleks temanku membanting setir ke kiri dan BREKK! Roda kiri depan seperti bergesekan dengan sesuatu, semacam plat besi yang terpasang di jembatan itu. Beberapa meter kemudian kami menyadari ada yang tak beres dengan si roda kiri itu. Tapi, tak seperti di Indonesia yang bisa menepi seenaknya, kami harus mencari tempat dimana mobil boleh berhenti. Terpaksa memaksa si mobil agar terus berjalan. Untungnya tak jauh dari tkp kami menemukan tempat untuk berhenti.

Perasaan campur aduk menyelinap di hati setelah melihat kondisi si roda tersebut. Separuh ban sudah terlepas dari velgnyaSementara itu goresan tajam terpahat di velg akibat bergesekan dengan aspal jalan. Yang lebih mendebarkan lagi adalah mobil tersebut adalah mobil sewaan. Pada saat menyewa, kami memang telah membayar asuransi. Namun tetap saja deg-degan. Kenyataan lain yang bikin hati tambah ciut itu adalah bahwa hari ini hari Natal. Itu artinya, kemungkinan bengkel buka diragukan. Pada saat Natal, semua toko-toko tutup. Akhirnya dipustukan untuk menelpon si rental mobil.

Pihak rental mobil memutuskan akan mengirim truk derek ke lokasi. Ketika kami meminta untuk disediakan mobil pengganti, pihak rental menolak karena stok mobil mereka habis. Mungkin karena musim liburan juga. Sialnya, karena hari itu hari libur maka kami harus menunggu kedatangan truk derek sekitar tiga atau empat jam. Iseng kami membuka bagasi, siapa tahu kami bisa mengganti ban mobil sendiri dan tak harus menunggu si truk derek. Setelah bagasi dibuka, kami terkelu. Tak ada ban serep di sana, begitu pula dengan dongkraknya.

Akhirnya truk derek datang juga. Lalu, menurut si supir truk, kami akan diantar hingga ke kota tujuan berikutnya, yaitu Liverpool bersama dengan si mobil tentu saja. Serunya lagi, kami akan beberapa kali berhenti di rest area karena kami harus berganti truk derek. “Ini hari libur maka truk derek tidak boleh keluar dari ‘wilayahnya’,” begitu kata si supir truk. Ketika aku bertanya mengapa tak ada ban serep dan dongkrak di bagasi, ia berkata bahwa lazim di Inggris pada masa sekarang ini untuk tidak secara otomatis melengkapi mobil baru dengan ban serep. Sang pemilik mobil harus membeli ban serep secara terpisah untuk mobilnya. Dan rental mobil di Inggris kurasa tak mau repot-repot menyediakan ban serep di setiap mobilnya. Kupikir karena rental mobil di sini menyediakan opsi asuransi bagi para penyewa dan juga telah bekerja sama dengan bengkel mobil tertentu. Ini sih asumsiku saja ya…. Dan, hei! Negara ini adalah negara yang sangat prosedural. Jadi mana mungkin prosedur yang telah disepakati dilanggar.

Jadinya, sepanjang Surrey hingga Liverpool (sekitar lima jam perjalanan) dijalani dengan berlelah-lelah lantas terkantuk-kantuk di dalam tiga truk derek. Nyaris tengah malam kami tiba di Liverpool.

Keesokannya, kami kembali menghubungi pihak rental. Dipastikan bahwa kami tak akan mendapat mobil pengganti dan harus menunggu hingga keesokan harinya sebab bengkel baru buka dua hari setelah Natal. Tambahan lagi, petugas rental menyarankan agar kami menghubungi perusahaan truk derek apabila ingin mengetahui secara pasti kapan mobil akan diperbaiki. Rupanya, jika ada ada kerusakan pada mobil sewa, maka perusahaan truk derek lah yang bertanggung jawab mengurusi semuanya hingga mobil ‘sehat’ kembali. Kami mencoba menghubungi perusahan truk derek, mencoba bernegosiasi agar mobil bisa diperbaiki hari ini sebab malam nanti kami sudah harus bergerak menuju ke kota lain. Dalam salah satu telepon, petugas operator truk derek sempat berkata bahwa ada bengkel yang buka di hari itu, namun ia menyarankan agar kami menghubungi kembali pihak rental untuk mengubah ‘surat tugas’. Pihak rental ternyata tak meluluskan permintaan kami. Karena memang prosedurnya sudah begitu (dan mungkin saja…sudah bekerja sama dengan bengkel itu! Jadi tak bisa seenaknya menunjuk bengkel lain hanya karena pihak penyewa tidak ingin merusak itinerary yang telah disusun). Lalu kami menghubungi kembali pihak truk derek, bertanya apakah ada opsi lain. Sempat mereka mengabarkan bahwa mobil bisa diperbaiki hari itu juga. Namun kemudian mereka menelpon dan mengatakan bahwa kami harus tetap menunggu esok hari. Yang menyebalkan adalah, setiap kali kami menelpon, baik kantor penyewaan mobil maupun truk derek, operator yang mengangkat telpon berbeda-beda. Sehingga kami harus selalu bercerita dari awal bagaimana kejadian ini menimpa kami.

Singkat cerita, esoknya, pagi-pagi mobil kami diperbaiki. Kami semua ikut diangkut dengan truk derek menuju bengkel. Menunggu agak lama dan gelisah, pihak bengkel memberi tahu kami bahwa ia belum bisa melakukan apa-apa sebab perusahaan truk derek yang bertanggung jawab akan si mobil belum memberikan lampu hijau kepada pihak bengkel. Haishh!!! Ingin rasanya memaki sistem negara ini. Terbayang jika ini terjadi di Indonesia, maka mungkin beberapa jam setelah kejadian ban mobil sobek itu, kami sudah melenggang meneruskan trip dan sudah memproduksi puluhan foto selfie…

Ketika pada akhirnya perjalanan berhasil dilanjutkan, perasaan anti-klimaks menyusup di hati. Lelah dan sudah mulai kehilangan gairah menjelajahi Inggris. Butuh waktu agak lama bagiku untuk menghidupkan kembali mood jalan-jalan yang telah hilang itu.

Selamat datang diriku di negara penuh SOP ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *