July 23, 2019 jejakkakirani 0Comment

We played basketball together. He was straight, I wasn’t. He used to tell me about the girl he was seeing. And it killed me inside…

Sepasang sepatu basket berwarna putih yang kulitnya sudah terkelupas di sana-sini terpampang di dalam sebuah kotak kaca. Sebuah sepatu basket biasa yang mungkin terlihat tak istimewa. Namun bagi dia, sepasang sepatu basket itu boleh jadi merupakan benda teristimewa sebab, lewat sepatu itu, ia mengenang cintanya yang tak berbalas.

Di sudut lain sebuah gaun pengantin putih terbuat dari kain brokat berkualitas prima dihiasi manik-manik kecil berdiri kokoh. Gaun itu, dulunya adalah calon gaun pengantin yang akan dikenakan oleh seorang perempuan di hari pernikahannya. Sayangnya, beberapa hari sebelum menikah, ia harus merelakan kepergian laki-laki yang kuyakin amat dicintainya.

Zagreb, sebuah kota besar yang tak terlalu besar agaknya pandai membaca peluang bahwa baper itu perlu dirayakan. Terus terang kunjunganku ke kota ini pun hanya untuk merayakan baper yang kuyakin semua orang pasti pernah mengalaminya. Tersebab itulah di awal musim semi yang basah, setelah menapaki tiga puluhan (atau kurang? aku tak menghitungnya!) anak tangga, aku tiba di tempat ini: Museum of Broken Relationship.

Sesuai dengan namanya, museum ini berisi kumpulan benda-benda yang pernah menjadi simbol dari sebuah hubungan. Tak hanya hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan (meski sebagian besar benda-benda yang dipamerkan memang terkait dengan hubungan jenis itu), tapi ada juga hubungan antara orang tua dan anak, bahkan hubungan seorang perempuan dengan kedua payudaranya yang ‘rusak’ akibat masektomi yang harus dijalaninya. Sepasang kutang berenda warna putih dan hitam itu menjadi penanda atas penerimaan diri perempuan itu terhadap hilangnya kedua payudara miliknya.

Nyaris dua jam aku berada di tempat ini. Sesekali terpaksa kususut air mata karena aku begitu terhanyut akan kisah dibalik benda-benda itu. Kehilangan memang tak pernah mudah. Dan salah satu dari ribuan cara untuk meringankan rasa kehilangan itu adalah dengan merayakannya. Mereka yang pernah hancur karena rasa kehilangan itu, memilih untuk berbagi kepada dunia lewat benda-benda yang dulu mungkin pernah menjadi sesuatu yang paling berharga yang mereka punya. Lewat gaun pengantin, sepasang sepatu basket, patung Maria, atau miniatur perabot rumah tangga, mereka mengisahkan hal terindah namun mungkin paling menyakitkan yang pernah mereka alami. Mereka terpuruk, berusaha bangkit, merayakan, lalu terus berjalan.

Kisah cincin Cladagh
Gaun Pengantin
Sepatu Boots

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *