April 18, 2020 jejakkakirani 0Comment

Meski letih, aku memaksa diri untuk bergegas menyusuri jalanan di pinggiran kota Lisbon demi menikmati senja. Kata orang, pergilah ke Belem Tower dan habiskan soremu di sana. Kamu juga bisa menyesap anggur sambil menikmati semilir angin, mumpung musim dingin belum tiba.


Dari kejauhan, kulihat sosok menara berdiri anggun dengan latar langit biru. Senja masih belum datang. Tapi, lihatlah! Deretan mobil terparkir tak jauh dari tempat paling terkenal di kota ini. Antrian wisatawan yang ingin masuk ke menara itu mengular. Aku mencari zebra cross lalu menyebrang jalan. Bergegas kuhampiri seorang pedagang minuman. One mineral water, please! Obrigado! ujarku sambil mengulurkan koin Euro

Lisbon di akhir November tak terlalu panas untukku. Namun tetap saja, setelah seharian menggelandang ke sana ke mari menjelajahi kota, yang kuperlukan saat ini adalah sebotol air mineral dingin dan tentu saja, senja!

Orang telah berkerumun di sini. Duduk-duduk di tembok pembantas pantai, anak-anak muda bermain skateboard, ada pula yang sedang asyik memadu kasih. Suara camar sesekali terdengar, menambah riuh suasana senja di tempat ini. Seorang pengamen laki-laki memainkan sekaligus menyanyikan lagu lama dari The Beatles. Beberapa orang melemparkan koin ke dalam kotak gitarnya. Aku, duduk tak jauh dari pengamen itu sambil meneguk air minum. Angin sepoi-sepoi menerpa tubuhku; kuambil cardigan yang tak terlalu tebal dari dalam ranselku dan segera kukenakan.

Sementara itu, semburat jingga mulai datang. Orang semakin berjejal, berjajar lalu berusaha menyimpan setiap momen langit yang menjingga ke dalam gawainya. Si Pengamen perlahan mengakhiri penampilannya, kemudian ikut bergabung dengan kerumunan manusia pengejar senja. Perlahan, birunya langit berubah menjadi lebih gelap, warna jingganya juga semakin tajam. Membaur bersama siluet kerumunan orang. Salah satu senja terindah di penghujung musim gugur.

Aku masih setia di sini hingga langit menggelap sempurna. Orang-orang mulai pulang. Ini Jumat malam. Setelah ini, mereka akan memenuhi bar dan restoran merayakan datangnya akhir pekan. Tak lama kemudian, aku pun segera undur diri dari tempat ini. Puluhan momen senja kali ini telah terekam di dalam gawaiku. Tepat pada saat aku tiba di halte, sebuah trem menuju pusat kota tiba. Aku segera melompat ke dalamnya.

Sampai bertemu lain waktu, Senja…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *