July 30, 2020 jejakkakirani 0Comment

Kami berada di atas sana, sedikit terayun-ayun dan diterpa angin musim panas yang menusuk tubuh, membuat tubuh sedikit menggigil. Saya merapatkan jaket sambil tak henti mencubiti diri sendiri. Sementara di bawah sana, hamparan hijau pepohonan diselingi bukit dan bebatuan berwarna kehitaman membuat pagi itu terasa istimewa.

Setelah drama di pagi hari, akhirnya saya diberi kesempatan mencoret satu pokok dari daftar tempat yang ingin saya datangi. Sudah sejak tiga tahun yang lalu saya selalu memohon untuk diberi kesempatan menjajal balon udara di Cappadocia yang kondang itu. Tapi, butuh perenungan yang tak sebentar mengingat harga yang harus dibayarkan untuk satu setengah jam berada di angkasa. Tidak murah bagi kantong mahasiswa penerima beasiswa, apalagi yang suka impulsif membeli tiket pesawat/kereta/bis lalu pergi ke mana saja yang dia suka.

Satu setengah jam saya dan sembilan orang lainnya berada di angkasa. Si pengemudi balon adalah seorang Turki yang ramah dan banyak cerita. Terkadang ia sengaja membuat manuver-manuver yang membuat balon bergerak sedikit liar dan kami berteriak-teriak, antara senang bercampur sedikit ngeri.

Ketika tiba kembali di daratan, sebuah meja berhiaskan serpihan bunga mawar dan botol-botol apple wine tanpa alkohol telah menunggu. Satu per satu nama kami dipanggil dan sebuah sertifikat diberikan kepada kami. Setelah itu kami bersulang dan potret bersama.

Selain tiket konser U2, saya tak menyesal menghabiskan sejumlah uang yang tak sedikit ini untuk terbang di udara. Cappadocia dan Goreme pada umumnya, jauh lebih cantik dilihat dari udara!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *